EmitenNews.com - Di aula utama Bursa Efek Indonesia (BEI), ritual awal tahun biasanya berlangsung bak sebuah liturgi negara. Sejak dini hari mestinya paspampres sudah bertebaran di mana-mana, di setiap sudut kawasan SCBD. Maklum rencananya pagi itu Presiden Prabowo Subianto akan hadir untuk membuka perdagangan bursa BEI di tahun kuda. Namun, sayang para investor dan stakeholder BEI, dibuat kecewa karena Jumat pagi itu (2/1/2026), tokoh dan sekaligus simbol negara tidak hadir.

Presiden Prabowo, mestinya dijadwalkan memberikan pidato pukul 09.05 WIB atau setelah perdagangan saham pagi dibuka. Namun, yang hadir hanya Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Ini sekaligus menjadi kali kedua Prabowo tidak hadir dalam momen pembukaan maupun penutupan perdagangan pasar modal. Pada pembukaan perdagangan BEI tahun lalu, kehadiran Prabowo diwakili Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Menurut Purbaya, ketidakhadiran Prabowo dikarenakan Kepala Negara tersebut tengah fokus penanganan pemulihan pasca-bencana di Sumatra. Sebagai informasi, Prabowo mengawali tahun baru 2026 di lokasi bencana di Aceh Tamiang, serta sempat ke Tapanuli Selatan untuk meninjau langsung pemulihan pasca-banjir dan longsor serta bertemu warga terdampak bencana. "Kan lagi di Aceh. Itu juga menunjukkan bahwa Presiden amat peduli dengan masalah yang dihadapi masyarakat. Artinya yang lain pun nanti akan diperhatikan, termasuk ekonominya," ucapnya kepada pers usai acara Pembukaan Perdagangan BEI, Jakarta.

Purbaya menilai, komitmen Prabowo terhadap masyarakat dan ekonomi justru tercermin dari kunjungan tersebut. Maka dari itu, ketidakhadiran Prabowo dalam agenda pembukaan perdagangan tidak menjadi persoalan karena seluruh jajaran kabinetnya tetap menjalankan tugas. "Komitmen presiden terhadap masyarakat, terhadap ekonomi, amat kuat diperlihatkan dengan kunjungannya ke Aceh itu. Jadi tidak apa-apa. Kan alat-alatnya presiden di sini semua," kata dia.

Pada seremoni pembukaan itu, beberapa pejabat negara yang tetap hadir antara lain Gubernur BI Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Direktur Utama BEI Iman Rachman. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa OJK Inarno Djajadi menegaskan tidak ada persoalan terkait Presiden Prabowo Subianto yang tidak membuka perdagangan perdana pasar modal tahun 2026. “Tidak ada masalah. Presiden kan yang paling penting adalah dukungan kepada pasar modal, bukan kehadirannya. Banyak hal yang lebih penting juga, seperti misalnya kemarin kan beliau baru dari Aceh, dari Medan, segala macam,” ujar Inarno kepada wartawan. Ia menyebut Presiden memiliki berbagai agenda kenegaraan lain yang juga bersifat prioritas.

Absennya Kepala Negara dalam pembukaan perdagangan 2026 ini bisa saja dinilai wajar. Presiden lebih mementingkan penanganan korban banjir di Sumatra. Tapi bagi para pengamat pasar yang terbiasa membaca tea leaves (tanda-tanda halus) kebijakan pusat , ketidakhadiran Prabowo memantik pertanyaan tentang hierarki prioritas ekonomi pemerintahan saat ini. Apakah pasar modal kini dianggap “anak tiri “ atau justru "anak mandiri" yang tak lagi butuh belaian tangan Presiden?,Ataukah ini sinyal,  Istana memberikan mandat dan beban penuh kepada Purbaya untuk mengawal stabilitas moneter tanpa bayang-bayang politik langsung?

Paradoks Ketidakhadiran

Sayang memang, Prabowo melewatkan pesta yang justru paling layak dirayakan. Data pasar berbicara lebih keras daripada bunyi suara  seremonial gong. Di bawah transisi ekonomi yang penuh tantangan, IHSG menutup tahun 2025 dengan kinerja moncer (gemilang). Indeks acuan melesat 22,1% secara year-to-date, ditutup di level 8.646 pada akhir Desember 2025. Sebuah rekor All Time High yang membungkam para skeptis awal tahun.

Ketika perdagangan pagi ini dibuka oleh tangan Purbaya, pasar tidak merajuk. IHSG justru menguat 0,34% ke level 8.676 dalam sepuluh menit pertama, dengan nilai transaksi menembus Rp 2,5 triliun. Investor asing, yang sepanjang 2025 mencatatkan net sell tipis namun mulai kembali agresif di kuartal IV, tampaknya tidak peduli siapa yang memegang bel, selama laporan keuangan emiten tetap hijau. Ini membuktikan satu hipotesis menggembirakan: Bursa Indonesia mungkin akhirnya telah mencapai tingkat kematangan di mana "restu fisik" presiden tak lagi menjadi bahan bakar utama. Purbaya, dengan latar belakang akademis dan teknokratisnya yang kental, tampaknya dianggap oleh pasar sebagai "jangkar" yang kredibel menggantikan karisma politis Sri Mulyani.

Simbolisme vs Substansi

Kendati demikian, dalam politik ekonomi Indonesia yang kental dengan paternalisme, simbolisme tetaplah “mata uang” yang masih laku. Ketidakhadiran Presiden bisa ditafsirkan sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, ini adalah vote of confidence bagi Purbaya Yudhi Sadewa. Presiden seolah berkata, "Urusan angka, saya serahkan pada ahlinya." Namun, di sisi lain, absennya Kepala Negara berisiko membiarkan narasi liar berkembang saat volatilitas menyerang nanti. Apakah Istana merasa pasar finansial sudah terlalu "panas" (overheated) dengan valuasi yang tinggi?

Bagi investor ritel domestik yang jumlahnya kini menembus lebih dari 20 juta SID, kehadiran fisik Presiden adalah vitamin atau booster termurah. Tanpa itu, Purbaya memikul beban ekspektasi yang berat sendirian. Ia harus membuktikan bahwa kebijakan fiskal di 2026 tetap pro-pasar meski fokus Presiden tersita pada agenda ketahanan pangan dan pertahanan.

Sinyal Bisu

Tentu, pasar saham bukan ekonomi riil. Namun, ia adalah barometer kepercayaan. Jika pasar mampu terus reli tanpa kehadiran seremonial Presiden, itu adalah tanda kesehatan struktural yang patut dipuji. Namun, 2026 diprediksi penuh gejolak eksternal, mulai dari arah suku bunga global hingga tensi geopolitik.

Untuk saat ini, pasar telah memaafkan ketidakhadiran sang jenderal dan menyambut tangan dingin Purbaya. Namun, "bulan madu" IHSG dengan tim ekonomi baru ini tidak akan selamanya dilindungi oleh data feed yang hijau. Di masa sulit nanti, ketidakhadiran Istana mungkin tidak akan ditanggapi dengan kenaikan indeks, melainkan dengan pertanyaan: "Ke mana nakhoda kita?" ( Be*eN)