EmitenNews.com - PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) harus menghadapi tantangan baru setelah kerja sama dengan PT Rekan Anak Bangsa (RAB), bagian dari GoTo Group, berakhir. Berakhirnya kontrak tersebut membuat perseroan kehilangan salah satu sumber pendapatan yang sepanjang tahun lalu menyumbang sekitar 30% dari total omzet. 

Corporate Secretary TAXI Johannes B. E. Triatmojo mengatakan perseroan telah menerima pemberitahuan resmi mengenai pengakhiran Perjanjian Pengadaan Jasa dari PT Rekan Anak Bangsa yang efektif pada 2 Juli 2026.

Meski demikian, manajemen menilai penghentian kerja sama tersebut masih dapat diantisipasi melalui optimalisasi kontrak yang telah berjalan serta penambahan armada dari mitra lain untuk menjaga kinerja operasional.

"Perseroan telah mengantisipasi dampak tersebut dengan mengoptimalkan penghasilan dari kontrak kerja lain yang ada, serta penambahan kendaraan operasional dari vendor yang lain," ujar Johannes dalam keterbukaan informasi, dikutip Minggu (5/7/2026).

Dikutip dari publikasi laporan tahunan, perseroan membukukan pendapatan Rp1,06 miliar dari layanan angkutan sewa khusus (ASK) yang berasal dari kerja sama dengan PT Rekan Anak Bangsa di sepanjang 2025.  Nilai tersebut berkontribusi sekitar 30% terhadap total pendapatan yang mencapai Rp3,50 miliar.

Sepanjang 2025, TAXI membukukan pendapatan sebesar Rp3,50 miliar atau turun 10,15% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp3,90 miliar.

Penurunan tersebut terutama dipicu melemahnya pendapatan dari segmen sewa kendaraan yang turun menjadi Rp2,44 miliar dari Rp3,90 miliar pada 2024.

Kinerja Kuartal I 2026

TAXI berhasil menunjukkan perbaikan kinerja pada kuartal I 2026 dengan memangkas rugi bersih lebih dari 80%. Berdasarkan laporan keuangan kuartalan, pendapatan TAXI melesat 239,6% menjadi Rp2,26 miliar pada kuartal I 2026, dibanding hanya Rp668,09 juta pada kuartal I 2025.

Kenaikan pendapatan tersebut turut mendorong perbaikan profitabilitas. Perseroan berhasil membukukan laba bruto sebesar Rp575,11 juta, berbalik dari posisi rugi bruto Rp1 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.