Haji Isam dan Ambisinya Jadi Konglomerat Terkaya RI
:
0
Haji Isam dan Ambisinya Jadi Konglomerat Terkaya RI. Foto AFU.id
EmitenNews.com - Andi Syamsudin Arsyad atau akrab disapa Haji Isam merupakan pengusaha berdarah Sulawesi Selatan dengan latar belakang pengalaman yang dihabiskan puluhan tahun di industri pertambangan. Walau tidak pernah mengenyam bangku sekolah menengah atas, apalagi sarjana pertambangan, ia disebut merintis bisnis ekstraksi sumber daya alam ini dari bawah.
Belakangan ini namanya memang sedang sibuk dibicarakan banyak orang, sebab ia disebut ingin mengakuisisi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai bagian dari konglomerasi usahanya. Tidak heran jika isu ini berhembus, pasalnya dari sekian banyak nama pengusaha, beberapa di antaranya memang sudah mengamankan sektor perbankan demi ekspansi hingga memperlancar bisnis. Sebut saja, grup Salim dengan Bank INA, CT Corp milik Chairul Tanjung dengan Bank Mega, hingga grup Djarum milik keluarga Hartono sendiri dengan Bank BCA.
Menanggapi isu yang beredar, EVP Corporate Communication & Social Responsibility Bank BCA Hera Haryn menyebut bahwa isu itu tidak benar. Perusahaan selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan bisnis, termasuk yang berkaitan dengan akuisisi. Kabar ini pun sukses mendorong BBCA naik tipis 0,40 persen, pada Jumat (25/09), melansir TradingView.
Jika akuisisi BBCA dipastikan tidak terjadi, setidaknya untuk saat ini, berbeda dengan PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Melansir keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan menjelaskan bahwa akuisisi 30 persen saham atau setara 10 miliar lembar benar dilakukan oleh entitas Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama. Akuisisi ini lantas tidak memindahkan status pemegang saham utama dan pengendali dari Low Tuck Kwong yang sudah mendirikan korporasi ini sejak 1998.
Nilai transaksi yang juga belum diungkapkan ternyata mencuri perhatian. BEI pun angkat suara dengan menyebut transaksi tidak dilakukan melalui pasar reguler, sehingga kedua belah pihak berhak tidak mencantumkan nilai transaksinya. Hal ini mengacu pada Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas, di mana poin VII.2 menjelaskan perdagangan di pasar negosiasi bisa dilakukan kedua belah pihak tanpa mengacu pada besaran fraksi harga.
Saham BYAN pun merespons aksi korporasi ini dengan penurunan harga hingga 12,15 persen dari 13.775 pada 09 September menjadi 12.100 di dua belas hari kemudian. Kejadian ini masih dinilai sebagai aksi jual untung investor yang wajar, namun juga diselimuti dengan anggapan bahwa nilai transaksi yang jumbo tidak dibarengi dengan transparansi kepada pelaku pasar retail. Catatan negatif ini pun ternyata tidak menyurutkan langkah Haji Isam demi mengejar ambisinya menjadi orang terkaya di Indonesia.
Ambisi Konglomerat Terkaya RI
Sepanjang pengetahuan penulis, Haji Isam memang tidak pernah benar-benar mengatakan ambisi tersebut. Namun laporan yang dikeluarkan Bloomberg pada 16 Juli 2026 dengan tajuk “Prabowo’s Favored Tycoon Wants to Become Indonesia’s Richest Man” menyebut mimpi itu memang ada dalam visinya, menurut orang yang mengetahui Haji Isam dengan baik. Ia disebut tidak hanya ingin menjadi orang kaya, namun juga meninggalkan warisan di negeri ini.
Ambisi ini tampaknya tidak main-main, apalagi Haji Isam tidak lahir dari keluarga berada. Ia tercatat memulai karirnya sebagai supir pengangkut kayu di Kalimantan Selatan sejak 2001. Tekadnya untuk memulai usaha lahir dua tahun berikutnya dengan modal yang dipinjamkan Johan Maulana, pengusaha asal Surabaya sekaligus mentor bisnisnya.
Berpayung CV Jhonlin Baratama, ia pun mulai menjadi kontraktor pelaksana di salah satu perusahaan milik keluarga Bakrie. Bisnis yang semakin berkembang pesat menjadi cikal bakal perusahaan yang kini membesarkan namanya di industri pertambangan.
Related News
Saham Gocap Jadi Rp1: Dongkrak Likuiditas atau Rekor Saham Sampah?
APBN Jumbo 2027 & Peta Sektor yang Berpotensi Menuai Buah Kebijakan
APBN Tembus Rp 4.000 T, Dolar Rp 18.000. Suahasil akan Berhasil?
Yield US Treasury Melonjak, IHSG & Rupiah Terancam Capital Outflow
Vietnam Masuk Emerging Market, Indonesia Harus Berbenah
Bank Indonesia Menjadi Pemegang Saham BEI, Bolehkah?





