Harga Avtur Melambung Intai Kinerja Sektor Penerbangan
:
0
Foto: IMM International
EmitenNews.com - Lonjakan harga bahan bakar jet (avtur) akibat eskalasi konflik di Timur Tengah mulai menekan kinerja maskapai global dan memberi sinyal kewaspadaan bagi emiten sektor transportasi udara di Indonesia. Maskapai terbesar Kanada, Air Canada, resmi memangkas proyeksi laba setahun penuh 2026 akibat pembengkakan biaya operasional.
Berdasarkan data BigGo Finance pada Kamis (29/10/2026), Air Canada mereduksi proyeksi EBITDA yang disesuaikan menjadi C$2,4 miliar hingga C$2,7 miliar atau setara USD1,7 miliar hingga USD1,9 miliar. Proyeksi tersebut turun signifikan dari estimasi Agustus lalu yang dipatok sebesar C$2,9 miliar hingga C$3,2 miliar atau setara USD2,1 miliar hingga USD2,3 miliar.
Langkah efisiensi dan revisi target tersebut diambil akibat lonjakan beban bahan bakar perusahaan yang membengkak C$906 juta atau setara USD647,8 juta menjadi C$2,118 miliar atau setara USD1,5 miliar. Kenaikan harga avtur maskapai tersebut tercatat mencapai 68 persen per liter.
"Meskipun kami memperkirakan lingkungan yang menantang akan terus berlanjut, posisi keuangan kami yang kuat memberi kami fleksibilitas untuk menanggapi perkembangan jangka pendek," ujar Kepala Bagian Keuangan Air Canada, John Di Bert, dalam keterangan resminya.
Tekanan marjin yang dialami Air Canada terjadi meskipun pendapatan operasional kuartal ketiga mencatatkan rekor C$6,984 miliar atau setara USD5,0 miliar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tingginya permintaan penumpang belum cukup kuat menutupi lonjakan ekstrem pada biaya bahan bakar.
Fenomena ini menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar modal di dalam negeri, khususnya terhadap emiten yang bergerak di bidang industri penerbangan dan transportasi udara yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Kenaikan harga avtur global berpotensi meningkatkan struktur biaya operasional maskapai nasional secara signifikan. Bagi investor di BEI, pergerakan harga minyak mentah dan avtur dunia kini menjadi indikator krusial dalam mencermati marjin profitabilitas serta arah kinerja keuangan emiten sektor penerbangan domestik.(*)
Related News
Saham Bebas Suspensi Ini Susuri Zona Merah, Melemah 5,22 Persen
IHSG Dibuka Melemah 0,68 Persen ke 5.063, Mayoritas Sektor Merah!
Ikuti Wall Street, IHSG Kembali Tertekan
Jelang Akhir Pekan, IHSG Masih Uji Level 5.000
Selewengkan Beras SPHP, Mentan Copot 8 Pejabat Pangan
Medio 2026, COIN Berbalik Rugi 259,85 Persen





