Harga IPO di Area Bawah Kisaran Book Building, Saham Nusantara Sawit (NSSS) Minim Peminat?

EmitenNews.com—PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk ( NSSS ) dan para penjamin pelaksana emisi Efek akhirnya membanderol harga penawaran umum perdana saham (IPO) senilai Rp127 per lembar, sehingga pada aksi korporasi ini dana masyarakat yang bisa dikantongi maksimal Rp453 miliar.
Berdasarkan Prospektus IPO NSSS yang dikutip di Jakarta, Kamis (2/3), harga IPO hanya dipatok Rp127 per saham. Padahal di fase Penawaran Awal (book building) ditetapkan sekitar Rp122-190 per lembar, sehingga nilai penggalangan dana melalui pasar modal bisa diperoleh maksimal Rp677,96 miliar.
Namun dengan ditetapkannya harga IPO senilai Rp127, maka NSSS hanya bisa meraup dana masyarakat maksimal Rp453 miliar. Sedianya, dana hasil IPO ini akan dimanfaatkan perseroan untuk membiayai modal kerja sejumlah anak usaha, PT Borneo Sawit Perdana, PT Bina Sarana Sawit Utama dan PT Prasetya Mitra Muda.
Pada proses IPO ini, manajemen NSSS menunjuk empat penjamin pelaksana emisi Efek, yakni PT BRI Danareksa Sekuritas, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, PT Sucor Sekuritas dan PT Samuel Sekuritas Indonesia.
Periode penawaran umum saham 2-8 Maret 2023 dan diharapkan pendistribusian saham secara elektronik (Tanggal Emisi) bisa dilakukan pada 9 Maret 2023. Perseroan dan para penjamin pelaksana emisi Efek berharap saham NSSS bisa dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Maret 2023.
Sebagaimana diketahui, NSSS sedang berupaya menghimpun dana masyarakat melalui pasar modal untuk memberikan modal kerja kepada sejumlah anak usahanya, mengingat hingga akhir kuartal III-2022 perseroan masih mencatatkan defisit atau akumulasi rugi mencapai Rp387,18 miliar.
Pada pelaksanaan IPO ini, NSSS menawarkan saham ke publik sebanyak-banyaknya 3.568.235.300 lembar bernilai nominal Rp50 per lembar atau setara 15 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO.
Related News

Malaysia Cabut Bea Masuk Anti Dumping Serat Selulosa Asal Indonesia

PLN Pertahankan Status Siaga Kelistrikan Hingga 11 April

Kemenperin Rilis Peta Jalan Hilirisasi untuk Pacu Swasembada Aspal

Investasi Tembus Rp206 Triliun, Industri Agro Serap 9,3 Juta Naker

Diskon Biaya Listrik 50 Persen Berakhir, Maret Berlaku Tarif Normal

Konsumsi Solar Turun 19 Persen Dampak Pembatasan Operasional Truk