EmitenNews.com - Lonjakan harga minyak mentah dunia hingga lebih dari 20 persen pada bulan ini mengancam ketahanan fiskal Indonesia. Kenaikan harga komoditas energi global yang signifikan ini berpotensi membengkakkan beban anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) serta meningkatkan biaya impor energi nasional.

Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah diperdagangkan mendekati USD 84 per barel pada hari Jumat dan berada di jalur kenaikan bulanan lebih dari 20 persen. Pada saat yang sama, minyak mentah jenis Brent diperdagangkan mendekati USD 89 per barel dengan lonjakan bulanan mencapai hampir 25 persen.

Peningkatan harga minyak secara masif ini dipicu oleh eskalasi konflik bersenjata yang mengancam gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Militer AS melancarkan serangan baru terhadap target Iran sebagai tanggapan atas serangan Teheran terhadap aset AS di seluruh wilayah tersebut, sehingga meredupkan harapan akan terobosan diplomatik dalam waktu dekat.

Di tengah memanasnya situasi, lalu lintas kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan mulai meningkat setelah sempat melambat, memungkinkan jutaan barel minyak mentah kembali melintas.

Sementara itu di Laut Merah, Arab Saudi menggelar pembicaraan dengan perwakilan 43 negara untuk membentuk koalisi maritim guna melindungi jalur pelayaran akibat blokade militan Houthi yang didukung Iran pada pekan lalu.

Pasar global juga mencermati potensi gangguan pasokan di Laut Hitam setelah pemuatan di terminal ekspor utama minyak mentah Kazakhstan kembali ditangguhkan akibat serangan terhadap kapal tanker.

Kenaikan harga minyak hingga mendekati USD 89 per barel ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pelaku pasar di Indonesia. Jika tren lonjakan harga energi ini berlanjut, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta potensi inflasi domestik dinilai sulit dihindari.(*)