EmitenNews.com - Bakrie & Brothers (BNBR) menggeber right issue Rp4,76 triliun. Itu melepas maksimal 89,91 miliar saham seri E bernominal Rp12 per helai. Saham anyar tersebut dikeluarkan dengan harga pelaksanaan Rp53 per eksemplar. 

Harga eksekusi right issue tersebut diskon sekitar 59,54 persen dari penutupan perdagangan saham BNBR edisi 25 Mei 2026 di level Rp131 per lembar. Right issue dijajakan dengan rasio 27:14. Artinya, setiap pemegang 27 saham lawas dengan nama tercatat dalam daftar pemegang saham pada 26 Juni 2026 pukul 16.00 WIB mempunyai 14 hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). 

Setiap 1 HMETD berhak untuk membeli 1 saham baru. Penerbitan saham baru dalam right issue setara 34,15 persen dari modal ditempatkan, dan disetor penuh dalam BNBBR. Port Fraser International Ltd sebagai pemegang saham utama sebanyak 38.857.777.917 saham atau 22,41 persen akan memperoleh bagian maksimal 20.148.477.438 HMETD.

Berdasar surat tertanggal 13 Mei 2026, Port Fraser International Ltd tidak melaksanakan seluruh HMETD, dan akan mengalihkan seluruh HMETD kepada Bakrie Capital Indonesia (BCI) sebagai pembeli siaga. Port Fraser tidak memiliki hubungan afiliasi dengan BCI. Fountain City Investment Ltd sebagai pemegang saham utama sebanyak 38.445.133.000 saham atau 22,17 persen akan memperoleh 19.934.513.407 HMETD.

Berdasar surat tertanggal 13 Mei 2026, Fountain City Investment Ltd tidak melaksanakan seluruh HMETD dan akan mengalihkan seluruh HMETD kepada BCI sebagai pembeli siaga. Fountain City tidak memiliki hubungan afiliasi dengan BCI. BCI sebagai penerima 40.082.990.845 HMETD dari Port Fraser, dan Fountain City akan melaksanakan seluruh HMETD berdasar surat pernyataan tertanggal 25 Mei 2026 senilai Rp2,12 triliun. 

BCI memiliki dana cukup untuk melaksanakan HMETD tersebut. Kalau saham-saham itu, tidak seluruhnya diambil atau dibeli pemegang HMETD, maka sisanya akan dialokasikan kepada pemegang HMETD lainnya. Namun, setelah alokasi masih ada sisa saham, BCI sebagai pembeli siaga akan menyerap maksimal 89.919.839.078 saham setara Rp4,76 triliun.

Dana hasil right issue, sebesar Rp4,36 triliun akan digunakan untuk memberikan pinjaman kepada Bakrie Toll Indonesia (BTI), anak usaha perseroan. Selanjutnya, oleh BTI dana itu senilai Rp3,66 triliun untuk pembayaran seluruh pokok pinjaman kepada Hartman International Pte. Ltd. (Hartman). Kemudian, sebesar Rp700 miliar akan digunakan oleh BTI untuk pembayaran seluruh pokok pinjaman per tanggal 31 Desember 2025 kepada Bank Nationalnobu (NOBU). 

Berikutnya, senilai Rp200 miliar akan dipergunakan oleh BCONS, anak perusahaan perseroan, untuk modal kerja proyek seperti pembelian bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya akomodasi, dan biaya lain-lain terkait proyek-proyek BCONS akan diberikan melalui penyetoran modal dari perseroan kepada BCONS. Lalu, sebesar Rp40 miliar akan digunakan Cimanggis Cibitung Tollways (CCT), anak usaha perseroan, untuk penyertaan modal pada perusahaan patungan (joint Venture).

Di mana, dana tersebut akan digunakan oleh perusahaan patungan untuk belanja modal dalam pembangunan rest area di jalan tol Cimanggis-Cibitung yang akan diberikan melalui penyetoran modal dari perseroan kepada CCT. Kemudian, sisa dana right issue akan digunakan perseroan untuk modal kerja seperti biaya gaji, sewa kantor, dan biaya operasional lainnya. (*)