EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan awal pekan ini berakhir merosot 56,43 poin atau 0,88% ke level 6.384,72, Senin (21/9/2026). Indeks komposit sejatinya dibuka menguat ke level 6.446,89 namun aksi jual menekan pergerakan sepanjang hari cenderung berada di zona merah.

Penurunan harga 354 saham memicu IHSG dan tak mampu diimbangi 280 saham yang menguat. Sebanyak 156 saham lainnya di akhir perdagangan tak berubah harga alias stagnan.

Perdagangan hari ini diramaikan 26,89 miliar saham yang ditransaksikan sebanyak 1,83 juta kali. Total nilai transaksi tembus Rp11,84 triliun.

Nilai perdagangan terbesar dicatat Amman Mineral Internasional (AMMN) sebesar Rp441,9 miliar. Namun, harga saham emiten tambang emas dan tembaga itu merosot tipis 0,43% ke Rp4.660 meski perseroan pada hari ini melaporkan lonjakan kinerja dalam laporan keuangan semester I 2026 audited.

Transaksi terbesar selanjutnya dicetak Bank Central Asia (BBCA) Rp437 miliar dan harga sahamnya merosot 1,19% ke Rp6.225. Saham dengan transaksi terbesar berikutnya adalah Aneka Tambang (ANTM) Rp358,1 miliar dan harga saham anjlok 2,99% ke Rp3.240 per saham.

Di jajaran 45 saham terlikuid, Merdeka Battery Materials (MBMA) mencatat penurunan harga terdalam, yaitu 3,67% ke Rp525, diikuti Alamtri Minerals (ADMR) melemah 3,46% ke Rp1.535, dan XL Smart (EXCL) turun 3,2% ke Rp2.420 per saham.

Di tengah pelemahan pasar awal pekan, saham-saham LQ45 berikut ini mencatat kenaikan harga paling tinggi yaitu Perusahaan Gas Negara (PGAS) menguat 1,69% ke Rp1.500, Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) naik 1,15% ke Rp1.315, dan Trimegah Bangun Persada (NCKL) menguat 1,09% ke Rp930 per saham.