IHSG ATH di Tengah Ketidakpastian Global: Anomali atau Momentum?
Lantai perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta menunjukkan indeks dalam masa penguatan.
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada periode ketika situasi global justru dibayangi ketidakpastian. Kombinasi gejolak geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih belum sepenuhnya pasti, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara besar seharusnya menjadi faktor penghambat bagi pasar negara berkembang.
Namun fenomena yang muncul justru sebaliknya, pasar saham Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat dan terus bergerak mendekati atau bahkan melewati level historisnya. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar, “Apakah pencapaian All Time High IHSG merupakan anomali yang bersifat jangka pendek, atau justru mencerminkan momentum struktural yang lebih besar?”
Soliditas Fundamental Domestik sebagai Penopang Utama
Salah satu faktor yang paling menonjol di balik penguatan IHSG adalah kondisi ekonomi domestik yang relatif stabil. Indonesia masih mempertahankan pertumbuhan di atas 5% dalam beberapa tahun terakhir, sebuah capaian yang cukup kuat dibandingkan negara-negara lain di kawasan yang menghadapi tekanan perlambatan. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi mesin utama ekonomi, didukung oleh tingkat inflasi yang terkendali dan stabilitas harga pangan yang cukup terjaga.
Selain itu, kondisi neraca perdagangan yang tetap mencatat surplus berkelanjutan memberi ruang lebih luas bagi stabilitas nilai tukar. Sektor komoditas yang memiliki kontribusi signifikan dalam ekspor, mulai dari batu bara, nikel, hingga minyak sawit, masih mencatat permintaan yang solid di pasar internasional. Walaupun harga komoditas sempat mengalami volatilitas, volume permintaan global tetap mampu memberikan penyangga pada posisi eksternal Indonesia.
Menelisik sisi fiskal, manajemen anggaran pemerintah juga menambah kepercayaan investor. Rasio defisit yang tetap terjaga serta komitmen terhadap konsistensi kebijakan fiskal memberi sinyal bahwa stabilitas makro Indonesia tidak hanya bersifat siklus, melainkan juga ditopang disiplin struktural. Semua elemen ini memberikan fondasi keyakinan bagi investor bahwa ekonomi Indonesia memiliki daya tahan di tengah turbulensi global.
Arus Modal Asing Mulai Kembali Melirik Indonesia
Walaupun investor asing sempat keluar dari pasar Indonesia dalam beberapa periode ketidakpastian global, belakangan terlihat tanda-tanda bahwa dana internasional mulai kembali masuk. Salah satu alasannya ialah persepsi bahwa valuasi pasar saham Indonesia tergolong atraktif dibandingkan beberapa negara emerging market lain yang sudah mengalami kenaikan lebih agresif.
Faktor lainnya adalah stabilitas politik dalam negeri pascapemilu. Transisi pemerintahan yang berjalan lancar memberi sinyal kuat bahwa kebijakan ekonomi akan tetap berada dalam jalur kontinuitas, terutama terkait pembangunan infrastruktur, hilirisasi, dan industri strategis. Investor asing secara alami mencari pasar yang memberikan visibilitas kebijakan jangka panjang, dan Indonesia dalam konteks ini dianggap cukup memenuhi kriteria tersebut.
Kembalinya aliran dana asing memberikan likuiditas tambahan bagi pasar saham, memperkuat tekanan beli di sejumlah sektor unggulan, termasuk perbankan, barang konsumsi primer, telekomunikasi, hingga energi. Hal inilah yang mendorong IHSG bergerak menuju level historis, meskipun dinamika global berada pada fase ketidakpastian.
Sentimen Domestik dan Optimisme Pelaku Pasar
Momentum positif IHSG juga didorong oleh tingginya partisipasi investor domestik. Setelah pandemi, jumlah investor ritel di Bursa Efek Indonesia mengalami lonjakan signifikan dan terus tumbuh secara tahunan. Penetrasi teknologi investasi mulai dari aplikasi sekuritas dengan biaya transaksi rendah hingga edukasi keuangan digital membuat akses terhadap pasar modal semakin inklusif.
Investor domestik kini menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas pasar. Ketika investor asing melakukan net sell, investor domestik sering kali mengambil posisi sehingga volatilitas tidak sepenuhnya berdampak pada pergerakan IHSG. Keberadaan investor institusi domestik seperti dana pensiun dan asuransi juga memberikan stabilitas tersendiri karena mereka memiliki horison investasi jangka panjang.
Sentimen optimistis terhadap perkembangan ekonomi Indonesia juga memperkuat dorongan pasar. Pelaku pasar melihat bahwa agenda hilirisasi, transformasi ekonomi digital, dan percepatan investasi manufaktur membuka peluang pertumbuhan pendapatan perusahaan tercatat dalam jangka panjang. Ekspektasi inilah yang mendorong aksi beli, meskipun kondisi global belum sepenuhnya mendukung.
Ketidakpastian Global: Risiko yang Tidak Bisa Dikesampingkan
Di tengah optimisme tersebut, penting untuk menyadari bahwa ketidakpastian global tetap menjadi risiko yang dapat mempengaruhi arah IHSG. Salah satu faktor utama adalah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Walaupun ekspektasi pelonggaran moneter mulai menguat, ketidakpastian waktu dan besaran penurunan suku bunga masih tinggi. Kenaikan kembali suku bunga, atau penundaan penurunan suku bunga, dapat memicu penguatan dolar AS dan tekanan keluar modal dari pasar negara berkembang.
Geopolitik juga menjadi faktor penting. Konflik di beberapa kawasan bisa mengganggu rantai pasok global, meningkatkan harga energi, atau menciptakan volatilitas pada komoditas tertentu. Bila kondisi ini memburuk, pasar negara berkembang biasanya menjadi destinasi pertama yang terdampak oleh flight to safety investor global.
Related News
Mitigasi Risiko Penempatan Dana Rp200 T + Rp76 T, Bakal Bagaimana?
Surat untuk Regulator: Lindungi Investor Ritel, Jangan Cuma Institusi
IHSG Akhir Tahun: Bocoran Panas IPO dan Window Dressing
5 RDTR Baru yang Akan Menciptakan Hotspot Bisnis 2026, Ada Apa Saja?
Mengapa Susah Menahan Sabar dalam Investasi Saham?
ESG Rating: Instrumen Transformasi Atau Ilusi Korporasi?





