EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur pada perdagangan 2-5 Juni 2026. Indeks komposit lagi-lagi terpangkas 8,69% sepekan terakhir akibat tekanan tiga arah yang datang bersamaan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah dalam risetnya Senin (8/6/2026) menyebut kombinasi sentimen negatif asing, domestik, dan global membuat aliran dana lokal kewalahan mengimbangi tekanan jual.

Pemicu utama berasal dari rebalancing FTSE yang mengeluarkan saham berkapitalisasi besar seperti DSSA, GOTO, dan NCKL tanpa pengganti. Aksi itu memicu forced selling dan mempercepat arus keluar modal asing. Net foreign sell di pasar reguler tercatat Rp7,4 triliun sepekan.

Dari dalam negeri, tekanan datang dari inflasi Mei 2026 sebesar 3,08% yoy yang melampaui konsensus. Rupiah juga jebol ke Rp18.000 per dolar AS. Menurut Hari, pelemahan rupiah mengonfirmasi outflow tidak hanya terjadi di saham, tetapi juga di pasar obligasi.

“Kombinasi ketiga faktor tersebut membentuk tekanan yang sulit diimbangi dana domestik. Ini jadi pekan terberat IHSG dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Hari.

Wall Street ikut memperparah sentimen. Pada Jumat, (5/6/2026), Nasdaq anjlok 4,18% ke 25.709, koreksi harian terburuk sejak April 2025. Pemicunya laporan Broadcom yang gagal menaikkan proyeksi chip AI. Saham Marvell ambles 16%, Micron turun 13%, Intel dan AMD masing-masing merosot 11%.

Data tenaga kerja AS juga menekan pasar. NFP Mei tercatat 172.000, jauh di atas ekspektasi 80.000. Yield UST 10 tahun tembus 4,5%. Probabilitas kenaikan Fed Funds Rate akhir tahun melonjak ke 72,7%.

Aksi jual sebagian dikaitkan dengan persiapan IPO SpaceX. Perusahaan antariksa itu dijadwalkan debut di Nasdaq pada 12 Juni 2026 dengan target valuasi USD1,75 triliun dan penggalangan dana USD75 miliar. IPO tersebut berpotensi jadi yang terbesar dalam sejarah pasar modal.

Proyeksi Sepekan Untuk Dicermati Investor

Memasuki 8-12 Juni 2026, pasar global menanti rilis CPI AS pada Rabu 10 Juni dan PPI pada Kamis 11 Juni. Keduanya jadi acuan dot plot FOMC. Laba Oracle dan Adobe juga ditunggu untuk menguji momentum saham teknologi.