EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin kompak ditutup menguat. Kondisi tersebut mengantarkan S&P 500 mencatat level tertinggi terbaru sepanjang sejarah. Raihan itu dicapai menyusul perosotan harga minyak mentah, dan inflasi tingkat produsen lebih rendah dibanding dengan ekspektasi.

Harga minyak mentah jenis WTI susut lebih dari 2 persen menjadi USD81,25 per barel, dan Brent juga terkoreksi lebih dari 2 persen menjadi USD87,070 per barel. Hasil tersebut dipicu turunnya permintaan di tengah konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Inflasi tingkat produsen Juli 2026 flat 0,0 persen mom, lebih rendah dari ekspektasi 0,2 persen mom.

Sedangkan secara tahunan inflasi naik 4,7 persen yoy lebih rendah dari ekspektasi 4,9 persen yoy, dan sebelumnya 5,5 persen yoy. Di sisi lain, inflasi inti tingkat produsen melejit 4,2 persen yoy lebih rendah dari sebelumnya 4,7 persen yoy namun sejalan dengan ekspektasi.

Penguatan indeks bursa Wall Street, dan lonjakan harga beberapa komoditas diprediksi menjadi sentimen positif pasar. Aksi jual investor asing, dan sikap hati-hati investor menjelang pidato nota keuangan 2027 berpeluang menjadi katalis negatif bagi indeks harga saham gabungan (IHSG).

So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah. IHSG akan menyusuri kisaran support 6.205-6.110, dan resistance 6.400-6.500. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Indofood (ICBP), Cimory (CMRY), Ban BNI (BBNI), Bank BCA (BBCA), HM Sampoerna (HMSP), dan Map Aktif (MAPA). (*)