EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin ditutup bervariasi dengan mayoritas menguat. Itu seiring inflasi Juli 2026 sesuai ekspektasi, dan lonjakan saham sektor teknologi berkaitan dengan teknologi kecerdasan buatan. Berdasar data dari Biro Ketenagakerjaan Amerika Seerikat (AS), Juli lalu inflasi naik 0,1 persen mom berbanding Juni 2026 deflasi minus 0,4 persen mom.

Secara tahunan inflasi naik 3,4 persen yoy lebih rendah dari Juni 2026 melejit 3,5 persen yoy. Inflasi inti yang mengeluarkan komponen harga energi dan makanan surplus 0,2 persen mom, dan naik 2,5 persen yoy lebih tinggi dari sebelumya 0 persen mom, dan menguat 2,6 persen yoy. Hasil inflasi tersebut, sejalan dengan ekspektasi pasar.

Oleh karena itu, peluang suku bunga acuan tetap pada pertemuan September 2026 mendatang menjadi makin besar. Penguatan mayoritas indeks bursa Wall Street, lonjakan beberapa harga komoditas, dan aksi beli investor asing diprediksi menjadi sentimen positif pasar.

Di sisi lain, hasil pengumuman rebalancing MSCI berpeluang menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.280-6.185, dan resistance 6.470-6.560. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan sejumlah saham berikut.

Yaitu, Hartadinata (HRTA), J Resources Asia (PSAB), Archi Indonesia (ARCI), Timah (TINS), Alamtri Minerals (ADMR), dan BFI Finance (BFIN). (*)