EmitenNews.com - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai investor masih cenderung berhati-hati menghadapi tekanan pasar domestik dan ketidakpastian eksternal. IHSG melemah 1,5% ke level 6.405, sementara investor mencermati perkembangan risiko domestik, pergerakan Rupiah, serta arus dana asing.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan investor diperkirakan mengambil sikap wait-and-see menjelang aksi demonstrasi di DPR. Dampak terhadap pasar akan sangat bergantung pada skala dan perkembangan aksi, dengan efek yang cenderung bersifat sementara apabila berlangsung tertib.

“IHSG masih menghadapi risiko dari sisi domestik dan eksternal. Kami melihat Rupiah dan foreign flow sebagai indikator utama untuk menilai apakah risiko dari agenda domestik mulai berdampak lebih luas terhadap pasar,” ujar Rully dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Dari sisi eksternal, PCE Amerika Serikat yang masih tinggi menjaga risiko kenaikan suku bunga Federal Reserve tetap terbuka dan membuat imbal hasil US Treasury berada pada level tinggi.

Sementara di pasar domestik, saham BBRI, BRPT, dan AMMN menjadi penekan IHSG, sedangkan EMAS dan MDKA kembali menopang indeks seiring harga emas yang masih bertahan dekat level tertinggi dalam tiga bulan.

Di tengah kondisi tersebut, arah kebijakan Bank Indonesia menjadi salah satu faktor penting bagi prospek pasar. Sebagai calon tunggal Gubernur BI, presentasi fit and proper test Destry Damayanti memberikan indikasi awal mengenai kebijakan yang lebih berorientasi pada pertumbuhan (pro-growth), meski volatilitas Rupiah dan ketidakpastian eksternal masih membatasi ruang penurunan suku bunga.

Lebih lanjut, ia menilai bauran kebijakan tersebut dapat berdampak positif bagi pasar saham, khususnya sektor perbankan dan domestik yang sensitif terhadap pertumbuhan, namun tetap perlu mempertimbangkan kondisi likuiditas perbankan yang semakin ketat.

Di tengah kondisi pasar yang masih selektif, peluang sektoral tetap terbuka. Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Daniel Aditya Widjaja menyoroti kembali wacana merger PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), yang berpotensi menjadi katalis bagi industri menara telekomunikasi.

Apabila terealisasi, entitas gabungan diperkirakan memiliki sekitar 65.800 menara dan 106.100 tenant dengan tenancy ratio sekitar 1,61 kali. Secara operasional, kombinasi kedua perusahaan dinilai memiliki kecocokan karena MTEL lebih terkonsentrasi di luar Jawa, sementara TBIG memiliki eksposur lebih besar di Jawa, sehingga potensi tumpang tindih aset relatif terbatas.

Daniel menilai konsolidasi dapat menjadi katalis pertumbuhan setelah beberapa tahun permintaan menara dan penambahan tenant cenderung moderat. Konsolidasi juga berpotensi memperkuat posisi tawar perusahaan menara dalam negosiasi perpanjangan sewa serta membuka peluang dari siklus belanja modal 5G operator telekomunikasi.