EmitenNews.com - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah sempat melemah tajam akibat keputusan interim freeze rebalancing oleh MSCI, belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, dalam keterangan yang dikutip Minggu (15/2/2026), menyebut sinyal tersebut terlihat dari masih berlanjutnya aksi jual bersih investor asing, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti Bank Central Asia (BBCA).

Menurut Rully, meskipun regulator dan bursa telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk memperbaiki persepsi dan kredibilitas pasar, Mirae Asset belum melihat tanda-tanda penguatan IHSG yang berkelanjutan. Menjelang pengumuman keputusan final MSCI terkait status pasar saham Indonesia, risiko volatilitas dinilai masih tinggi dengan potensi tekanan jual asing yang berlanjut.

Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih fluktuatif dalam jangka pendek, dipengaruhi ketidakpastian keputusan MSCI, arah arus modal asing, serta sentimen global seperti prospek penurunan suku bunga Federal Reserve dan dinamika harga komoditas dunia.

Dari sisi domestik, peluang penguatan tetap terbuka didukung stabilitas makroekonomi, inflasi yang relatif rendah, serta potensi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Namun demikian, investor diperkirakan tetap selektif hingga terdapat kepastian lebih lanjut mengenai klasifikasi pasar Indonesia di MSCI dan arah kebijakan moneter global.

Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), selama periode 9–13 Februari 2026 mencatat penguatan 3,49% ke level 8.212,271 dari posisi 7.935,260 pada pekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar turut mengalami kenaikan sebesar 3,83% menjadi Rp14.889 triliun dari Rp14.341 triliun pada sepekan sebelumnya

Volume transaksi harian BEI pada periode tersebut naik 4,73% menjadi 45,24 miliar saham dari 43,20 miliar saham pada pekan sebelumnya. Rata-rata frekuensi transaksi harian turut meningkat sebesar 0,37% menjadi 2,74 juta kali transaksi, dari 2,73 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Namun, rata-rata nilai transaksi harian BEI turun 6,27% menjadi Rp23,20 triliun, dari Rp24,75 triliun pada pekan sebelumnya. Investor asing mencatat jual bersih (net sell) Rp2,03 triliun. Total net sell asing sepanjang tahun 2026 ini capai Rp16,49 triliun.