EmitenNews.com - Harga emas dunia masih tertahan di zona penurunan dan berada di dekat level terendah dalam lima minggu terakhir pada perdagangan Selasa. Tekanan ini dipicu oleh tingginya harga minyak bumi yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas batangan berada di bawah posisi USD4.300 per ons. Pergerakan harga emas yang tidak memberikan imbal hasil ini terus terbebankan oleh tren kenaikan suku bunga global.

Pasar energi memperpanjang kenaikan harga akibat penutupan jalur pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi yang masih berlangsung. Di saat bersamaan, pihak Ukraina membantah klaim Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan penghentian serangan infrastruktur energi dengan Rusia.

Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran lonjakan inflasi dan meningkatkan tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan moneter. Pelaku pasar saat ini memperhitungkan probabilitas sekitar 92 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada hari Rabu.

Tekanan terhadap emas makin berat seiring lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS 10 tahun yang mendekati level 5 persen di tengah kekhawatiran fiskal dan inflasi. Selain The Fed, Bank Sentral Jepang (BOJ) juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada hari Jumat akibat tingginya biaya energi serta dinamika krisis di kawasan Timur Tengah.

Kondisi pelemahan harga emas di bursa global ini memberikan sinyal bagi pasar komoditas Indonesia. Pergerakan harga emas internasional yang masih tertahan di zona merah berpotensi menekan acuan harga emas batangan domestik, termasuk harga jual dan pembelian kembali (buyback) di pasar modal maupun gerai logam mulia tanah air.(*)