Impor Januari-Oktober 2025 Masih Didominasi Bahan Baku/Penolong
Struktur impor pada Januari—Oktober 2025 masih didominasi bahan baku atau penolong dengan pangsa 70,45%, diikuti barang modal (20,46%) dan barang konsumsi (9,09 %).
EmitenNews.com - Kinerja impor Oktober2025 tercatat sebesar USD21,84 miliar, naik 7,42% (MoM). Nilai ini terdiri atas sektor nonmigas sebesar USD19,03 miliar dan migas sebesar USD2,81 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan secara kumulatif, impor Indonesia pada Januari–Oktober 2025 mencapai USD198,16 miliar atau tumbuh 2,19% (CtC). "Peningkatan ini didorong penurunan impor migas sebesar 12,67% sementara impor nonmigas naik 4,95% (CtC),” ungkap Mendag dalam keterangan resminya (2/12).
Struktur impor pada Januari—Oktober 2025 masih didominasi bahan baku atau penolong dengan pangsa 70,45%, diikuti barang modal (20,46%) dan barang konsumsi (9,09 %). Impor barang modal naik sebesar 18,67%, namun impor bahan baku atau penolong dan barang konsumsi turun masing-masing 1,25% dan 2,05%(CtC).
“Kenaikan impor barang modal diantaranya disebabkan kenaikan impor central processing unit(CPU); ponsel pintar; mobil listrik; mesin penyortir, pengayak, pemisah atau pencuci; dan base station,” ujar Mendag.
Selanjutnya, impor produk bahan baku atau penolong dengan penurunan terdalam, yaitu bahan bakar minyak, gula rafinasi, kacang kedelai, bungkil kedelai, serta polipropilena. Sementara itu, impor barang konsumsi dengan penurunan terdalam antara lain air conditioner (AC), bawang putih, mobil listrik completely knocked down (CKD), krimer nabati, dan buah apel.
Beberapa komoditas impor nonmigas pada Januari—Oktober 2025 dengan peningkatan tertinggi antara lain, garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) yang naik65,85%; kakao dan olahannya (HS 18)naik 64,09%; serta pupuk (HS 31) naik 33,23% (CtC).
Berdasarkan negara asal, impor nonmigas pada Januari Oktober 2025 didominasi Tiongkok, Jepang, dan AS dengan kontribusi ketiganya mencapai 52,75% terhadap total impor nonmigas. Sementara itu, negara asal impor dengan kenaikan tertinggi adalah Meksiko sebesar 248,23%; Uni Emirat Arab sebesar 61,49%; serta Arab Saudi31,90% (CtC).(*)
Related News
Efisiensi dan Likuiditas Kuat, Fundamental Bisnis PGN Kian Solid
Periksa! Berikut 10 Saham Top Losers Pekan Ini
Cek! Ini 10 Saham Top Gainers dalam Sepekan
IHSG Rontok 7,89 Persen, Kapitalisasi Pasar Sisa Rp13.627 Triliun
Jumlah Nasabah Dan Tabungan Bullion Pegadaian Naik Hampir 2 Kali Lipat
Biarkan Debt Collector Bertindak Ilegal, Izin Usaha Bisa Dicabut





