Ini Masalah Serius, Industri Batik Indonesia Hadapi Regenerasi Perajin
:
0
Ilustrasi perajin batik. Dok. Bursa Bisnis.
EmitenNews.com - Ini persoalan serius. Industri batik Indonesia menghadapi persoalan regenerasi perajin. Masalah serius, karena itu terjadi di tengah meningkatnya penggunaan batik di berbagai segmen masyarakat saat ini. Kalau tidak ada langkah konkret untuk mengatasinya, budaya bangsa itu menghadapi bahaya besar.
Data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) menunjukkan jumlah perajin batik turun sekitar 20% sepanjang 2019-2023, dari sekitar 131 ribu menjadi 105 ribu orang.
Menurut Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza persoalan tersebut perlu mendapat perhatian. Pasalnya, batik tidak hanya berkaitan dengan produk fesyen, tetapi juga keterampilan yang diwariskan antargenerasi.
"Jika permasalahan regenerasi ini tidak segera kita tangani, maka keterampilan dan warisan leluhur membatik dikhawatirkan akan menjadi ancaman ke depan," ujar Faisol Riza saat membuka Pameran Hari Batik Nasional (HBN) 2026 di Surabaya, Rabu (30/9/2026).
Proses pembuatan batik yang banyak mengandalkan keterampilan tangan turut membuka lapangan kerja dan menopang ekonomi keluarga di sejumlah daerah. Persoalannya, pertumbuhan minat terhadap batik belum sepenuhnya diikuti dengan bertambahnya jumlah perajin.
Satu hal, di sisi lain, batik kini semakin banyak digunakan di luar acara formal. Perubahan tren fesyen membuat produk berbasis batik masuk ke berbagai kebutuhan sehari-hari, termasuk pakaian siap pakai, aksesori, dan produk kriya.
Kemenperin Juga Soroti Makin Sulitnya Bedakan Batik dengan Kain Motif Batik
Satu hal lagi, Kemenperin juga menyoroti semakin sulitnya masyarakat membedakan batik dengan kain bermotif batik yang dibuat menggunakan teknik printing. Perkembangan teknologi membuat kain printing dapat diproduksi dengan motif dan kualitas yang semakin menyerupai batik, sekaligus ditawarkan dengan harga lebih terjangkau.
Kondisi tersebut membuat edukasi mengenai proses pembuatan batik menjadi penting. Batik tidak semata-mata dibedakan berdasarkan motif, tetapi juga melalui proses, keterampilan tangan, dan nilai budaya yang melekat pada pembuatannya.
"Sudah saatnya kita memastikan agar batik tidak hanya dikenal sekadar dari motifnya, melainkan dihargai dari proses, keterampilan tangan, serta nilai budaya luhur yang menyertainya," katanya.
Related News
Soal Rencana Penerbitan Jakarta Bond, Gubernur Pramono Mulai Melunak
Presiden Lantik Kapolri Pengganti Listyo Sigit Prabowo Siang Ini
Tersangka Kelima Kasus Korupsi Nikel Rp401M, Ternyata Komisaris AMMN
Kabar Baik! Gaji PPPK Pemda 2027 Resmi Ditanggung Pemerintah Pusat
Info Terbaru! Wahana Interfood (COCO) Gandeng PMI
BGN Gandeng JICA Kembangkan Pilot Shokuiku untuk Program MBG





