EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimbau investor institusi domestik untuk berperan lebih aktif di pasar modal Indonesia di tengah dinamika pengumuman MSCI Inc. yang menempatkan Indonesia dalam konsultasi (wacana) perubahan klasifikasi dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Imbauan tersebut diserukan Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam wawancara media di Gedung BEI, Senin (19/10/2026), menjelang pertemuan virtual BEI dengan MSCI yang dijadwalkan pukul 15.30 WIB hari yang sama.

"Kami tentu menghimbau investor institusi domestik kita untuk berpartisipasi lebih aktif di pasar modal kita. Pasar modal kita fundamentalnya kuat, ya tentu akan menjadi prospek yang baik bagi investor, khususnya investor institusi domestik kita," tandas Jeffrey.

Ia menjelaskan, langkah tersebut penting untuk menjaga agar investor asing tetap bertahan dan bertransaksi di Indonesia.

"Kita juga punya jumlah investor retail yang sudah sangat besar. Yang kami imbau, investor institusi domestik kita juga harusnya berperan lebih aktif dan apa yang selama ini kita lakukan adalah untuk mempertahankan supaya investor asing tetap stay dan bertransaksi di Indonesia," katanya.

Potensi Penggerakan dan Pemanfaatan Fund Institusi Domestik >Rp1.200T

Imbauan BEI tersebut sejalan dengan dorongan dari parlemen sebelumnya.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhammad Misbakhun pada pertengahan tahun yang lalu (15/7/2026) gemar mengajak lembaga pemerintah berduyun-duyun mengorkestrasi dana milik negara untuk masuk ke pasar modal saat terjadi capital outflow. Meskipun, belum ada pembahasan lebih lanjut di DPR tersendiri.

"Sekarang ada gak kekuatan dana di dalam negeri? fund di dalam negeri untuk menggantikan, me-replace capital outflow tersebut. Untuk apa? Paling tidak menunjukkan seberapa kuat, sih, fundamental di dalam negeri kita," ujar Misbakhun di Gedung BEI Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Misbakhun menyoroti besarnya potensi dana dalam negeri yang bisa dikonsolidasikan. Ia menyebut Asset Under Management (AUM) BPJS Ketenagakerjaan hampir Rp890 triliun dan diproyeksi tembus Rp1.000 triliun tahun ini, ditambah BP Haji hampir Rp200 triliun, serta dana pensiun lain seperti ASABRI, TASPEN, dan Danantara.