Jelang Rp1 Berlaku, IHSG Pekan Depan Masih Volatil, Uji 6.300
:
0
Pengunjung memerhatikan daftar saham di layar monitor BEI. Foto: EmitenNews.
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan depan diperkirakan cenderung mengalami volatilitas tinggi. Hal itu disebabkan oleh sejumlah tekanan, mulai perubahan regulasi bursa, hingga faktor makroekonomi yang dominan.
Beberapa di antaranya yakni nilai tukar rupiah yang masih bertengger di level Rp17.900-an per dolar AS, tingginya yield US Treasury, harga minyak yang naik ke USD100 per barel, hingga ketidakpastian geopolitik.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta menilai selama faktor-faktor tersebut belum mereda, ruang rebound IHSG diperkirakan akan menghadapi resistance cukup kuat.
“Area 6.300 menjadi level psikologis penting untuk diperhatikan; kemampuan IHSG untuk kembali bertahan di atas area tersebut dapat menjadi salah satu indikasi awal stabilisasi teknikal,” kata Nafan kepada EmitenNews, Jumat (25/9).
Di saat yang sama, perdagangan hari ini IHSG ditutup di zona merah. Dari data RTI Business, IHSG melemah 0,90 persen atau turun 56,715 poin ke level 6.241,892. Dari jumlah saham di bursa, sebanyak 558 saham melemah, 118 saham menguat, dan 117 lainnya stagnan. Lalu, jika ditarik secara year to date IHSG telah melemah sekitar 27,81 persen.
Menurut Nafan, pelemahan ini menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi bukan lagi bersifat koreksi harian, melainkan sudah bersifat struktural. Salah satu persoalan krusial adalah meningkatnya risk-off terhadap aset domestik, terutama ketika rupiah melemah dan yield obligasi meningkat.
Kondisi tersebut, dapat mendorong investor asing melakukan rebalancing portofolio, sementara tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) memberikan dampak signifikan terhadap indeks.
“Ketika saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI mengalami tekanan jual secara bersamaan, kontribusinya terhadap penurunan IHSG menjadi jauh lebih besar dibandingkan tekanan pada saham-saham berkapitalisasi kecil. Oleh karena itu, stabilisasi IHSG nantinya tidak hanya bergantung pada sentimen domestik, tetapi juga pada arah dolar AS, yield UST, rupiah, foreign flow, dan ekspektasi terhadap kebijakan moneter,” tutur Nafan.
Karena itu, pada perdagangan pekan depan, pergerakan IHSG sangat bergantung terhadap faktor-faktor makro dan aliran dana asing. Selama rupiah masih berada di sekitar Rp17.900–Rp18.000, yield global tetap tinggi, harga minyak berada di atas USD100 per barel, dan foreign selling masih terjadi pada big caps, investor perlu mewaspadai volatilitas.
“Sebaliknya, apabila rupiah mulai stabil, foreign flow berbalik positif, tekanan jual big banks mereda, dan IHSG mampu kembali bertahan di atas area 6.300, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa tekanan pasar mulai berkurang,” ujar Nafan.
Related News
IHSG Melemah 0,9 Persen di Akhir Pekan, 3 Big Banks Topang Transaksi
Bursa Siang Sepi Transaksi, IHSG Drop ke 6.263—Asing Net Sell Lagi
IHSG Sesi I Kurang Tenaga, Turun 0,55%, Rupiah pun Dekati Rp18.000
Meski Ditekan Sentimen, IHSG Dibuka Menguat 0,32% ke Atas Level 6.300
Microsoft Investasi USD1,7 M, Menkomdigi Minta Transfer AI
Asing Eksodus, IHSG Kembali Tertekan





