EmitenNews.com - Ketegangan militer yang meningkat pesat antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz memicu kepanikan global terhadap pasokan energi. Kondisi ini membuat harga minyak mentah Brent melonjak 4,6 persen dalam sepekan hingga menyentuh angka 88 USD per barel. Bersamaan dengan itu, para pengelola dana lindung nilai (hedge fund) menambah posisi bullish minyak mentah dengan laju tercepat dalam hampir satu dekade terakhir.

Namun, laporan dari finance.biggo.com memperingatkan ancaman ekonomi yang jauh lebih besar justru datang dari sektor bahan bakar lain, yakni solar. Harga solar global diprediksi memberikan dampak yang lebih parah bagi perekonomian dibandingkan dengan kenaikan harga bensin. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan rantai pasokan bahan bakar global yang terjadi secara simultan di beberapa wilayah.

Selain konflik di Selat Hormuz dan serangan Iran terhadap infrastruktur Kuwait, pasokan solar global kian terjepit setelah Rusia resmi melarang ekspor solar miliknya. Langkah Rusia ini merupakan respons atas serangan Ukraina yang menghantam sejumlah kilang minyak mereka. Akibatnya, harga solar di AS melesat tajam hingga menembus angka 5 USD per galon.

Sebagai bahan bakar utama untuk sektor transportasi logistik dan pertanian, kenaikan harga solar ini diwaspadai akan mendorong tekanan inflasi langsung dari dasar rantai pasokan. Analis memperingatkan bahwa harga solar yang menembus angka 5 USD per galon merupakan ancaman terbesar bagi perekonomian karena dampaknya yang jauh lebih luas dan lebih parah daripada bensin.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak mentah dan solar dunia ini menjadi alarm serius. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Kenaikan harga solar internasional berpotensi memberikan tekanan berat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk pos subsidi energi. Jika harga keekonomian solar terus meroket, sektor logistik dan distribusi barang di dalam negeri akan menanggung biaya yang lebih tinggi, yang pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok di masyarakat.(*)