Kuasai 15% Bobot IHSG, 4 Emiten Top 10 Market Cap Ternyata HSC
:
0
Kuasai 15% Bobot IHSG, 4 Emiten Top 10 Market Cap Ternyata HSC. Foto EmitenNews
EmitenNews.com - Langkah PT Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis daftar tambahan 37 nama yang melengkapi total 51 emiten dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC). HSC itu sendiri merupakan sebuah kondisi di mana saham perusahaan publik hampir seluruhnya atau di atas 92% dikuasai oleh segelintir pengendali saja.
Data ini jelas mengungkap fakta penting mengenai kondisi pasar modal saat ini. Berdasarkan data statistik perdagangan terbaru, masalah "saham langka" ini ternyata tidak lagi mendominasi perusahaan-perusahaan kecil, melainkan sudah menjalar ke jantung penggerak utama bursa.
Berdasarkan data statistik perdagangan 14 Juli 2026, empat dari sepuluh perusahaan dengan market capitalization atau nilai total keseluruhan terbesar di Indonesia kini resmi masuk radar pengawasan ketat bursa karena berstatus HSC.
Mereka adalah DCII, BREN, BYAN, dan MORA. Nilai gabungan dari keempat perusahaan raksasa ini sangat fantastis, yakni mencapai Rp1.619 triliun atau menguasai sekitar 15,38% dari total seluruh pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Namun, porsi free float atau jumlah saham yang benar-benar dilepas ke masyarakat luas untuk diperjualbelikan secara bebas di perusahaan-perusahaan ini terhitung sangat mini karena hampir seluruh barangnya masih dikunci oleh para bos besar atau grup konglomerasi mereka.
Profil Empat Raksasa Penguasa Bursa
- DCII (HSC 99,96%)
PT DCI Indonesia Tbk (DCII) saat ini menempati peringkat kedua sebagai perusahaan dengan nilai tertinggi di bursa dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp474 triliun. Perusahaan yang bergerak di industri penyedia pusat data (data center) modern berskala besar ini didirikan oleh pionir teknologi kawakan Otto Toto Sugiri dan mendapat dukungan penuh secara strategis dari konglomerat Anthoni Salim melalui Salim Group.
Struktur kepemilikan di atas 1 persen per 30 Juni 2026 memperlihatkan secara gamblang bagaimana saham perusahaan ini terkunci rapat di segelintir pihak. Pendiri perusahaan, Otto Toto Sugiri, mendekap porsi individu terbesar yakni sebesar 29,90%, diikuti oleh Marina Budiman sebesar 22,51%, dan Han Arming Hanafia sebesar 14,11%. Sementara itu, Anthoni Salim memegang kepemilikan langsung sebesar 11,12%, dan Bing Moniaga menguasai 4,23%. Kombinasi lima individu kunci ini saja secara akumulatif telah mengunci hampir 82% dari seluruh saham perusahaan.
Sisa kepemilikan di atas 1 persen lainnya didominasi oleh jajaran institusi investasi dan korporasi. Skyhills Capital SPC memegang porsi sebesar 4,61%, disusul Fortune Yield Investment SPC sebesar 4,20%, Chang Cheng Investment Holding Limited sebesar 3,37%, Peak Harvest Pte Ltd sebesar 3,13%, serta PT Graha Sentosa Aditama Maju sebesar 2,67%. Jika ditotal, sepuluh pemegang saham kakap ini sudah menguasai 99,85% dari total modal ditempatkan perusahaan.
Kondisi kepemilikan yang super padat inilah yang menjadi alasan fundamental mengapa tingkat konsentrasi kepemilikan di DCII secara total menyentuh angka 99,96%. Struktur ini secara otomatis membuat sisa saham yang benar-benar beredar di masyarakat luas untuk diperdagangkan setiap hari hanya tersisa 0,04%. Angka yang sangat ekstrem tersebut membuat pasokan saham DCII menjadi komoditas yang sangat langka di pasar reguler, sekaligus menjadi alasan kuat di balik penyematan label HSC oleh otoritas bursa.
- BREN (HSC 97,31%)
Selanjutnya ada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang menempati peringkat ketiga terbesar di bursa dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp452 triliun. Emiten yang fokus pada sektor energi baru terbarukan, khususnya sebagai salah satu produsen listrik tenaga panas bumi (geothermal) terbesar di Indonesia ini, merupakan permata hijau di bawah payung Barito Pacific Group milik taipan Prajogo Pangestu.
Related News
Sebulan IPO WBSA Distempel HSC, Begini Fakta Saham HSC di Bursa Global
Energi WSBP di Tengah Gembok Bursa & Bayang-Bayang Beban Finansial
Rahasia Laba Pelindo Terbang 60% Saat Omzet Cuma Naik 11%
Market Share Astra Terkikis, Ini Rahasia Merek Non-Astra Melesat
Bukan Gairah Baru, Ini Alasan Penjualan Mobil Semester I-2026 Naik 16%
Adu Pesta IPO Juli 2026: PRDL Juara, 5 Emiten Lain Terjebak Euforia?





