EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memutar balik penguatan hingga penutupan perdagangan sesi pertama, Selasa (10/3/2026). Hingga pukul 12.00 WIB, IHSG tercatat naik 52,147 poin atau 0,71 persen ke level 7.389,516.

Berdasarkan data perdagangan, total volume transaksi mencapai 22,3 miliar saham dengan nilai transaksi Rp10,62 triliun. Sebanyak 443 saham menguat, 227 saham melemah, dan 145 saham lainnya bergerak stagnan.

Penguatan indeks terutama ditopang oleh reli saham-saham berbasis komoditas logam seperti PT Timah Tbk. (TINS) yang melonjak 9,4 persen, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) naik 6,6 persen, PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) menguat 6,0 persen, serta PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) naik 3,0 persen.

Secara sektoral, hampir seluruh indeks mencatatkan penguatan. IDXBASIC memimpin dengan kenaikan 3,08 persen, disusul IDXINDUSTRY yang naik 2,49 persen, IDXCYCLICAL menguat 1,47 persen, IDXTRANS naik 1,15 persen, IDXPROPERTY menguat 1,11 persen, IDXFINANCE naik 0,47 persen, IDXHEALTH menguat 0,45 persen, IDXNONCYC naik 0,42 persen, IDXTECHNO bertambah 0,27 persen, dan IDXINFRA menguat 0,09 persen. 

Sementara itu, IDXENERGY menjadi satu-satunya sektor yang melemah dengan penurunan 0,16 persen.

Sejumlah saham juga menjadi penggerak utama indeks (index movers), di antaranya PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang berada di level Rp805 atau naik 6,62 persen, PT Astra International Tbk. (ASII) di Rp6.075 naik 3,84 persen, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang menguat 1,91 persen ke Rp74.600.

Lalu, beberapa saham menjadi pemberat indeks seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang turun 3,54 persen ke Rp2.990, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) melemah 2,38 persen ke Rp205.000, serta PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) turun 2,04 persen ke Rp7.200.

Sentimen positif juga datang dari bursa global. Bursa utama Asia bergerak menguat setelah pasar saham di Wall Street ditutup naik pada perdagangan sebelumnya, menyusul pernyataan Donald Trump yang menyebut konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi segera mereda.

Menanggapi hal ini, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto dalam paparannya mengatakan “Saat ini sendiri memang fokusnya lebih banyak ke seberapa lama atau seberapa ketat dari perang ini, yang menyebabkan pergangguan dari jalur perdagangan (di Selat Hormuz). Jadi sebenarnya tidak hanya kapal tanker, tapi banyak perdagangan dari komoditas-komoditas lainnya. Mungkin kalau kita lihat secara sentimen saat ini sendiri, mungkin yang dalam jangka pendek akan diuntungkan memang saham-saham yang terkait dengan energi dan komoditas.”