EmitenNews.com - Menarik mencermati profil PT Satu Visi Putra Tbk. (VISI), yang disebut-sebut memantik keinginan pesohor Nagita Slavina menjadi pemilik saham pengendali. Emiten distributor bahan advertising itu, menggeluti bidang perdagangan besar bahan advertising dan printing digital, seperti banner, display, tinta, PVC board, dan UPB board. 

Informasi yang diperoleh Kamis (12/2/2026), menyebutkan bahwa VISI dikenal sebagai distributor material outdoor printing dan advertising untuk kebutuhan promosi berbasis percetakan digital. 

Data yang ada menyebutkan secara operasional, bisnis ini telah dijalankan oleh para pemegang saham sejak 2007 sebelum perseroan resmi berdiri pada 14 Februari 2018. Perusahaan memperoleh pengesahan badan hukum dari Kementerian Hukum dan HAM pada Maret 2018. 

Nah, untuk mendukung rantai pasok, perseroan mengimpor bahan baku dari sejumlah produsen besar di China. VISI mengoperasikan sepuluh unit truk sebagai sarana logistik untuk mendistribusikan produk ke jaringan distributor nasional. 

Laman resmi perseroan menuliskan, VISI menguasai tujuh gudang dengan total luas sekitar 7.222 meter per segi yang tersebar di Surabaya, Gresik, dan Bekasi, serta satu gudang tambahan yang disewa di Surabaya. 

Untuk jaringan distribusinya menjangkau kota-kota besar di Tanah Air. Di antaranya,  Jakarta, Makassar, Bali, dan Semarang.

Pada 7 Februari 2024, PT Satu Visi Putra Tbk. (VISI) Melakukan lompatan besar, melantai di Bursa Efek Indonesia dengan penjamin emisi PT Surya Fajar Sekuritas. Sahamnya dibuka pada level Rp125 per lembar dan sempat menguat hingga Rp138 pada awal perdagangan. 

Data per 31 Januari 2026 menyebutkan, Direktur Utama VISI David Dwiputra masih menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan sekitar 71,54% atau sekitar 2,20 miliar saham. 

Kemudian, Direktur Farrer Yonathan menguasai sekitar 6,51%, sedangkan Komisaris Utama Robert Putra Sampurna hanya 1,95%. Untuk porsi masyarakat berada di kisaran 20% atau sekitar 615 juta saham. 

Dengan masuknya calon pengendali baru, jelas berpotensi mengubah struktur kepemilikan sekaligus arah strategi bisnis perseroan ke depan. Apalagi kalau kemudian diikuti perubahan fokus usaha dan ekspansi baru.