Masuk HSC Saat Boncos, Asing & Komut Ternyata Setir Saham NICK
:
0
Masuk HSC Saat Boncos, Asing & Komut Ternyata Setir Saham NICK. Dok. Stockbit
EmitenNews.com - Berdasarkan laporan keuangan per tengah tahun 2026, PT Charnic Capital Tbk (NICK) sempat mencatatkan bahwa sekitar 21,62% sahamnya dimiliki oleh masyarakat. Namun, pada 22 September 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis data yang menunjukkan bahwa 99,28% saham NICK secara agregat dikuasai oleh kelompok pemegang saham tertentu, sehingga perusahaan resmi masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC).
Jejak Julius Baer dan Pihak Pengendali di Balik Layar
Jika melihat data rinci kepemilikan saham per Agustus 2026, sebanyak 98,63% saham NICK ternyata dipegang oleh sembilan pihak saja. Rincian pemegang saham di atas 1% tersebut meliputi PT Indovest Central sebanyak 375.088.800 saham atau 57,60%, PT Okansa Indonesia sebanyak 113.235.000 saham atau 17,39%, BOOM Securities (H.K.) Limited sebanyak 32.354.300 saham atau 4,97%, dan Bank Julius Baer and Co. Ltd. Hong Kong sebanyak 31.500.000 saham atau 4,84%.
Selain itu, terdapat pula Phillip Securities (Hong Kong) Limited sebanyak 28.299.400 saham atau 4,35%, Freddy Santoso selaku Komisaris Utama sebanyak 22.105.000 saham atau 3,39%, PT Okansa Fuji Shosha sebanyak 20.408.100 saham atau 3,13%, PT Prosperindo Utama sebanyak 10.738.400 saham atau 1,65%, serta Ariosta sebanyak 8.504.500 saham atau 1,31%.
Akibat dominasi tersebut, porsi saham yang benar-benar bebas diperdagangkan oleh publik menjadi sangat terbatas di bawah 1,4%, sehingga pergerakan sahamnya sepenuhnya berada dalam kendali pihak pengendali.
Baca Juga: Listrik Jadi Tulang Punggung, Kapal Makin Seksi, Dividen Cair Lagi
Kondisi Keuangan: Brankas Kuat di Tengah Tekanan Kinerja
Dari sisi fundamental, struktur neraca NICK sebenarnya mencatatkan kondisi keuangan yang sehat dengan rasio liabilitas terhadap ekuitas atau DER yang konservatif di angka 0,099x. Perusahaan juga memiliki posisi kas yang kuat dengan rasio lancar mencapai 69,2x.
Kendati demikian, pencapaian neraca yang kokoh ini tidak sejalan dengan performa labanya, di mana NICK membukukan rugi bersih sebesar Rp9,07 miliar pada Semester I-2026, berbalik dari posisi laba Rp68 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan penjelasan resmi manajemen kepada bursa, kerugian portofolio investasi efek hingga Rp33,94 miliar per 30 Juni 2026 sebagian besar disebabkan oleh kerugian nilai pasar yang belum direalisasikan atau unrealized loss akibat metode pencatatan mark to market di tengah tekanan pasar modal. Manajemen menilai kerugian tersebut bersifat sementara karena portofolio ditempatkan pada instrumen yang berfundamental kuat.
Related News
Listrik Jadi Tulang Punggung, Kapal Makin Seksi, Dividen Cair Lagi
Era Saham “Hidup Segan Mati Tak Mau” Berakhir, Siapa Paling Dirugikan?
Tersingkir dari MSCI Mei 2026, Rapor AMMN Berbalik Laba Berkat Tembaga
Nasib Ritel Apes: D-50 Delisting Cuma MABA Buka Suara, Sisanya Gimana?
Dibeking 4 Klien Kakap, Saham Prajogo Tembus Top 10 MSCI Small Cap
Cuma 3, Ini Saham Indonesia yang Masuk Indeks High Dividend Yield MSCI





