Masuknya Djarum & Tren 5G Menyengat Reli Saham BACH, Ini Kata Pengamat
:
0
Ilustrasi model bisnis emiten BACH. Foto: AI/Pluang.
EmitenNews.com - Saham debutan parade IPO bulan Juli, PT Bach Multi Global Tbk. (BACH) mendadak mencatatkan kenaikan 4 hari beruntun hingga Jumat, 31 Juli 2026 usai adanya aksi akuisisi 51% saham oleh entitas Grup Djarum.
Pada perdagangan terakhir Jumat (31/7/2026), BACH ditutup naik 15,03% ke level Rp880, setelah sebelumnya berturut-turut naik 10,28% ke Rp590 pada (28/7), 12,71% ke Rp665 pada (29/7), dan 15,04% ke Rp765 pada (30/7).
Penguatan ini membuat BACH menjadi salah satu saham dengan performa terbaik pekan ini. Nilai transaksi juga melonjak hingga Rp384,29 miliar dengan volume 4,60 juta saham pada 31 Juli 2026.
Di balik reli tersebut, pengamat menyoroti dua katalis utama yakni, masuknya Grup Djarum sebagai pemegang saham pengendali dan besarnya prospek sektor infrastruktur telekomunikasi seiring ekspansi jaringan 5G, AI, dan cloud computing.
Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb Fauzan Luthsa dalam keterangannya Sabtu (1/8) menilai masuknya PT Global Teknologi Perkasa (GTP) afiliasi Grup Djarum menjadi pemicu awal meningkatnya minat investor terhadap BACH.
“Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh,” bebernya.
Menurutnya, selama ini BACH banyak dikenal sebagai perusahaan genset. Padahal berdasarkan prospektus, perseroan menangani sekitar 41.000 site telekomunikasi.
“Artinya, BACH sudah menjadi bagian dari ekosistem infrastruktur telekomunikasi. Menurut saya, pemahaman inilah yang mulai berkembang di pasar,” katanya.
Pengamat CORE Indonesia Dipo Satria Ramli turut menambahkan, peluang pertumbuhan sektor infrastruktur telekomunikasi masih besar dalam 3-5 tahun ke depan. Kebutuhan pembangunan menara telekomunikasi dan jaringan fiber optic masih tinggi seiring meningkatnya kebutuhan pelanggan dan korporasi.
“Masih besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optic masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat,” ungkap Dipo.
Related News
Emiten Unggas (AYAM) Transaksi Aset, Nilai Capai Rp70 Miliar
Emiten Harry Tanoe (BHIT) Melesu, Laba Bersih Anjlok 52 Persen
Ditopang Produksi Panas Bumi, Pertumbuhan PGE (PGEO) Meningkat
ASLC Bidik Penjualan di Caroline Tembus Rp1T, Digitalisasi Jadi Kunci
Pendapatan Naik, PYFA Pangkas Rugi Hingga 99,4 Persen Per Juni 2026
TPIA Jelaskan Penurunan Laba, H1-2025 Didorong Keuntungan Sekali Saja





