EmitenNews.com - Kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin ditempatkan sebagai salah satu teknologi strategis bagi masa depan Indonesia. AI diharapkan meningkatkan produktivitas, mempercepat pelayanan publik, memperkuat industri, mengembangkan riset, dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Karena itu, pembangunan infrastruktur digital, pusat data, compute cluster, jaringan telekomunikasi, energi, dan talenta AI mulai memperoleh perhatian yang semakin besar. Namun, di tengah optimisme tersebut, terdapat satu pertanyaan yang belum memperoleh perhatian sebanding, yaitu berapa banyak air yang dibutuhkan untuk membuat infrastruktur AI tetap beroperasi?

Pertanyaan menjadi semakin relevan setelah muncul kasus pembangunan pusat data AI di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 1 Oktober 2026 mengumumkan penghentian sementara pembangunan proyek tersebut karena dokumen AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung belum tersedia.

Pemerintah daerah juga meminta agar kajian mengenai penggunaan air dari Waduk Jatiluhur dibuka kepada masyarakat serta memastikan kebutuhan pusat data tidak mengganggu pemanfaatan air untuk masyarakat dan pertanian. Proyek direncanakan memiliki kapasitas listrik hingga 640 MW.

Kasus ini memperlihatkan bahwa pembangunan pusat data AI bukan semata-mata persoalan teknologi dan investasi. Di belakangnya terdapat persoalan tata ruang, energi, air, lingkungan, dan kepentingan masyarakat yang harus dihitung secara bersamaan.

AI sering terlihat seperti teknologi yang berada “di awan”. Pengguna mengetik pertanyaan melalui komputer atau telepon, kemudian jawaban muncul dalam beberapa detik. Namun, di balik pengalaman digital tersebut terdapat infrastruktur fisik yang sangat besar. Model AI membutuhkan GPU dan CPU berperforma tinggi yang bekerja secara intensif (Zhang dkk., 2025).

Komputasi menghasilkan panas sehingga sistem pendinginan diperlukan agar perangkat tetap beroperasi pada temperatur aman (Chu dkk., 2004). Pada pusat data tertentu, proses pendinginan menggunakan air. Sehingga terdapat hubungan sederhana yang sering tidak terlihat oleh pengguna, yaitu AI membutuhkan komputasi, komputasi membutuhkan listrik, listrik menghasilkan panas, panas membutuhkan pendinginan, dan pendinginan dapat membutuhkan air.

Persoalannya bahkan lebih kompleks. Listrik yang digunakan pusat data juga dapat memiliki jejak air karena sebagian pembangkit listrik menggunakan air dalam proses produksinya (Siddik dkk., 2021). Adapun produksi semikonduktor dan perangkat keras juga membutuhkan air (Williams dkk., 2002). Sehingga jejak air AI tidak cukup dihitung berdasarkan air yang secara langsung masuk ke gedung pusat data.

Li, Yang, Islam, dan Ren melalui penelitian Making AI Less “Thirsty” menunjukkan pentingnya melihat persoalan tersebut secara menyeluruh (Li dkk., 2025). Dalam studi kasus GPT-3, mereka memperkirakan pelatihan model tersebut di pusat data Microsoft di Amerika Serikat berkaitan dengan konsumsi sekitar 5,4 juta liter air jika konsumsi langsung dan tidak langsung diperhitungkan, dengan sekitar 700.000 liter berasal dari konsumsi air langsung di lokasi.

Penelitian tersebut juga memperkirakan bahwa sekitar 500 mL air dapat dikaitkan dengan 10–50 respons GPT-3 berukuran sedang, bergantung pada lokasi dan waktu operasi. Angka ini tentu bukan berarti setiap pertanyaan kepada setiap model AI selalu membutuhkan setengah liter air. Angka tersebut merupakan estimasi yang dipengaruhi berbagai asumsi, lokasi pusat data, teknologi pendinginan, sumber listrik, dan karakteristik beban komputasi. Justru di sinilah pesan penelitian tersebut, bahwa jejak air AI sangat bergantung pada bagaimana, kapan, dan di mana AI dijalankan.