EmitenNews.com - Kinerja fundamental empat bank terbesar di Indonesia—sering disebut sebagai Big Four—pada Triwulan III 2025 menunjukkan fondasi keuangan yang sangat kuat. 

Ketahanan ini didukung oleh lingkungan makroekonomi domestik yang stabil, di mana Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh pada level 5,04% year-on-year (YoY). 

Pertumbuhan PDB yang stabil ini menjadi landasan utama bagi sektor perbankan untuk mendorong ekspansi kredit, terutama di segmen konsumer dan UMKM. Optimisme ini juga tercermin dari tingginya Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) yang berada di zona optimis pada Triwulan III 2025, mencapai level 65.

Di tengah kondisi makro yang stabil, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah strategis dengan memangkas BI-Rate (suku bunga acuan) menjadi 4,75%. Secara edukasi, keputusan ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan suku bunga pinjaman dan deposito perbankan. 

Bagi bank, penurunan suku bunga acuan menciptakan dinamika yang kompleks: di satu sisi, hal ini mendorong volume ekspansi kredit (pinjaman) dalam 3-6 bulan mendatang; namun, di sisi lain, muncul potensi tekanan pada Net Interest Margin (NIM) atau selisih antara bunga pinjaman dan bunga simpanan. 

Bank cenderung dipaksa untuk menurunkan suku bunga pinjaman yang mereka tawarkan lebih cepat daripada penurunan biaya dana yang mereka tanggung.

Dalam skenario suku bunga rendah ini, bank yang paling tangguh mempertahankan profitabilitas adalah bank dengan struktur pendanaan paling efisien. 

Efisiensi ini diukur melalui rasio CASA (Current Account Savings Account), yang merupakan dana pihak ketiga (tabungan dan giro) yang biayanya murah dan tidak sensitif terhadap perubahan suku bunga acuan. 

Ketahanan Profitabilitas Bank: Komparasi Struktural CASA vs. NPM

Analisis fundamental menunjukkan korelasi yang kuat dan menentukan antara kualitas pendanaan suatu bank dan margin keuntungan bersihnya, khususnya dalam skenario suku bunga rendah yang menantang. 

Bank Central Asia (BBCA) menunjukkan keunggulan struktural yang signifikan, dengan rasio CASA (dana murah) tertinggi sebesar 83,80%, yang secara langsung memungkinkan bank ini mencatatkan Net Profit Margin (NPM) TTM terbaik di 50,47%. Keunggulan ini memberi BBCA bantalan terbesar untuk menyerap tekanan biaya dana dan menjaga profitabilitas tetap tinggi. 

Kontrasnya, Bank Mandiri (BMRI) juga menunjukkan ketangguhan dengan CASA tinggi sebesar 72,83%, yang menjadikannya bank Himbara yang paling efisien, menghasilkan NPM kuat sebesar 38,22%. Di sisi lain, Bank Rakyat Indonesia (BBRI), meskipun memiliki CASA yang kuat (67,64%), terhambat oleh beban operasional yang lebih tinggi, sehingga NPM-nya turun ke 35,31%. 

Posisi paling rentan dipegang oleh Bank BNI (BBNI). Dengan rasio CASA terendah sebesar 65,60%, BBNI memiliki ketergantungan terbesar pada deposito (dana mahal), yang menekan marginnya dan menghasilkan NPM paling tipis di 31,84%. Oleh karena itu, data menegaskan bahwa efisiensi struktural pendanaan yang tinggi (CASA) adalah kunci utama untuk mempertahankan kualitas laba di masa depan.

Disclaimer: Tulisan ini bukan ajakan jual/beli, tapi bahan diskusi biar lo makin pinter atur strategi. Do Your Own Research (DYOR)!