Mengapa ARA Beruntun 'Doyan Disuspensi Bursa' Ketimbang ARB?
Ilustrasi suspensi yang diakibatkan oleh kenaikan harga secara agresif.
EmitenNews.com - Dalam pasar saham, pergerakan harga yang ekstrem dapat mengindikasikan adanya fluktuasi yang tidak wajar, baik itu kenaikan harga saham (Auto-Rejection Atas/ARA) maupun penurunan harga saham (Auto-Rejection Bawah/ARB).
Menilik situasi seperti ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki mekanisme suspensi yang bertujuan untuk menstabilkan pasar. Namun, sering kali suspensi hanya dilakukan ketika saham mengalami ARA berturut-turut, sementara ARB berturut tidak mendapat perlakuan yang sama. Kenapa hal ini bisa terjadi?
Kebijakan Suspensi di BEI
Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki aturan yang mengatur perdagangan saham yang mengalami lonjakan harga ekstrem, baik itu naik maupun turun. Suspensi dilakukan untuk memberikan waktu kepada pasar untuk mencerna informasi lebih lanjut terkait pergerakan harga saham yang tidak wajar.
Suspensi bertujuan untuk menghindari terjadinya manipulasi pasar, memberikan ruang bagi investor untuk membuat keputusan lebih rasional, serta menjaga stabilitas pasar.
Namun, kebijakan suspensi ini umumnya hanya berlaku pada saham yang mengalami ARA berturut-turut, yaitu ketika harga saham melonjak melebihi batas yang ditentukan oleh bursa dalam beberapa kali perdagangan berturut-turut. Sebaliknya, saham yang mengalami ARB berturut-turut, meskipun mengalami penurunan harga yang signifikan, jarang sekali mendapatkan suspensi. Mengapa bisa demikian?
Fokus pada Meningkatnya Risiko Spekulasi
Salah satu alasan utama BEI lebih sering memberikan suspensi pada saham yang mengalami ARA berturut adalah untuk mengantisipasi risiko spekulasi berlebihan. Kenaikan harga saham yang tajam dalam waktu singkat sering kali dipicu oleh faktor spekulatif, seperti rumor, berita tidak terverifikasi, atau bahkan manipulasi pasar.
Dalam hal ini, suspensi dimaksudkan untuk memberikan waktu bagi pasar untuk mencerna informasi lebih lanjut, mencegah terjadinya lonjakan harga yang tidak didukung oleh fundamental yang kuat. Perusahaan yang sahamnya mengalami lonjakan harga dalam waktu singkat bisa jadi menarik perhatian investor spekulatif yang mencari keuntungan cepat.
Tanpa pengawasan yang memadai, lonjakan harga ini bisa mengarah pada bubble pasar yang berisiko meledak, menyebabkan kerugian besar bagi investor. Dengan suspensi, BEI berusaha untuk menjaga integritas pasar dan memastikan bahwa pergerakan harga saham tetap didorong oleh fundamental yang sehat, bukan oleh spekulasi yang tidak terkontrol.
Penurunan Harga Tidak Selalu Mengindikasikan Manipulasi
Sebaliknya, penurunan harga saham (ARB berturut-turut) lebih jarang dianggap sebagai indikasi manipulasi pasar. Penurunan harga yang terjadi dalam beberapa sesi perdagangan bisa jadi merupakan reaksi pasar terhadap kinerja perusahaan atau perubahan ekonomi makro, bukan hasil dari aktivitas yang tidak sehat.
Saham yang turun tajam bisa disebabkan oleh faktor eksternal, seperti perubahan kebijakan pemerintah, ketidakpastian pasar, atau kondisi ekonomi yang memburuk. Dalam banyak kasus, penurunan harga saham sering dianggap sebagai hal yang wajar, terutama jika ada faktor fundamental yang mendasari penurunan tersebut.
Oleh karena itu, BEI cenderung tidak memberikan suspensi pada saham yang mengalami penurunan berturut-turut, karena pasar sering kali melihatnya sebagai bagian dari proses penyesuaian harga yang normal.
Risiko dan Dampak Terhadap Investor
Meskipun kebijakan ini mungkin dapat mengurangi risiko speculative bubbles dalam saham yang naik tajam, kebijakan ini juga dapat menimbulkan risiko tersendiri bagi investor yang sahamnya terus mengalami penurunan berturut-turut. Tanpa adanya suspensi, saham yang terus mengalami penurunan harga bisa membuat investor merasa terjebak dan menyebabkan kekhawatiran berlebihan.
Investor bisa saja terus-menerus mengalami kerugian tanpa adanya kesempatan untuk menganalisis atau mengambil keputusan yang lebih bijak, terutama jika saham tersebut berada dalam downtrend yang berkelanjutan. Selain itu, dengan tidak adanya suspensi pada saham yang turun tajam, kepercayaan pasar terhadap kemampuan BEI untuk menjaga kestabilan harga saham juga bisa menurun. Investor mungkin merasa bahwa pergerakan pasar tidak cukup dijaga, karena penurunan harga yang ekstrem bisa terjadi tanpa adanya tindakan dari otoritas bursa.
Related News
Kunci Sukses Redenominasi Rupiah
IHSG ATH di Tengah Ketidakpastian Global: Anomali atau Momentum?
Mitigasi Risiko Penempatan Dana Rp200 T + Rp76 T, Bakal Bagaimana?
Surat untuk Regulator: Lindungi Investor Ritel, Jangan Cuma Institusi
IHSG Akhir Tahun: Bocoran Panas IPO dan Window Dressing
5 RDTR Baru yang Akan Menciptakan Hotspot Bisnis 2026, Ada Apa Saja?





