Menggeliat, Begini Ramalan Bisnis Non-Batu Bara BUMI ke Depan
:
0
Lokasi tambang Bumi Resources. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Bisnis non-batu bara Bumi Resources (BUMI) digadang-gadang akan makin baik ke depan meski kinerja kuartal pertama tahun 2026. Tidak peduli meski segmen batu bara masih menjadi penopang utama pendapatan. EBITDA segmen batu bara dan non-batu baru dipatok seimbang pada 2031.
Analis MNC Sekuritas Raka Junico menilai BUMI mampu mencapai target EBITDA segmen batu bara dan non-batu bara seimbang edisi 2031. Itu terjadi karena BUMI dinilai agresif dalam mentransformasi bisnis menjadi perusahaan tambang multikomoditas lewat berbagai aksi korporasi akuisisi beberapa waktu belakangan.
Raka juga mengungkapkan BUMI sudah mengakuisisi saham tambang konsentrat tembaga Wolfram, dan saham tambang emas Jubilee. Plus terbaru BUMI juga berencana mengakuisisi perusahaan tambang Australia lainnya yaitu Loyal Metals. “Ekspansi anorganik BUMI langkah strategis jangka panjang positif, karena melalui strategi diversifikasi risiko fluktuasi harga komoditas terutama batu bara lebih dapat di manage. Jadi, stabilitas, dan kualitas earnings jangka menengah dan panjang menjadi lebih solid,” beber Raka.
BUMI baru merilis kinerja kuartal pertama 2026. Hasilnya, pendapatan naik 19,7 persen menjadi USD417,7 juta. Sisi laba tahun berjalan dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melejit 35,2 persen menjadi USD28,1 juta. Berkat efisiensi operasional, laba usaha melesat signifikan dengan laju 75,8 persen menjadi USD49,1 juta.
Secara umum, segmen batu bara masih mendominasi. Pada kuartal I 2026, pendapatan segmen batu bara mencapai USD348,2 juta atau naik surplus 22 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Lompatan pendapatan batu bara sejalan dengan peningkatan volume penjualan mencapai 19,1 juta ton atau tumbuh 14 persen yoy, dengan kontribusi kuat dari Arutmin mencatat pertumbuhan penjualan signifikan 37 persen, dan stabilitas penjualan KPC melonjak 5 persen pada kuartal pertama 2026.
Di tengah tekanan geopolitik dan volatilitas harga komoditas, BUMI tetap menjaga stabilitas operasional dengan mempertahankan tingkat produksi solid, sekaligus menjalankan berbagai inisiatif efisiensi biaya untuk mendukung ketahanan kinerja guna menjaga optimalisasi margin yang tercermin dari penurunan production cost 11 persen YoY dari USD45,1 per ton menjadi USD40 per ton.
Sementara itu, kontribusi segmen non-batu bara juga menunjukkan tren pertumbuhan positif. Pendapatan dari emas dan perak tercatat mencapai USD69,5 juta atau naik 9,7 persen yoy pada kuartal pertama 2026. Dengan capaian tersebut, kontribusi pendapatan non-batu bara terhadap total pendapatan perusahaan mencapai sekitar 16,6 persen.
Raka menilai kinerja BUMI awal tahun ini tergolong solid, terutama karena perusahaan masih mampu menjaga pertumbuhan meski harga jual rata-rata batu bara secara tahunan mengalami penurunan. Namun demikian, peningkatan volume penjualan mampu menjadi penyeimbang terhadap pelemahan harga komoditas sehingga profitabilitas perusahaan tetap terjaga.
Raka juga menilai harga batu bara global masih relatif tinggi di tengah tensi geopolitik, dan konflik internasional berpotensi menjadi katalis tambahan bagi kinerja perseroan ke depan. Selain itu, pasar juga mulai menantikan kontribusi dari tambang tembaga Wolfram yang diproyeksikan mulai beroperasi dalam waktu mendatang.
“Dengan harga batu bara dan emas masih tinggi, sentimen terhadap kinerja BUMI tentunya menjadi lebih positif. Apalagi perusahaan juga memiliki rekam jejak efisiensi operasional sudah cukup teruji dalam beberapa tahun terakhir,” ucap Raka. (*)
Related News
Mark Dynamics (MARK) Bagi Dividen, Simak Besaran dan Jadwalnya
Kabar Terbaru Danamon (BDMN), Jajaki Rencana Integrasi dengan MUFG
Grup Hapsoro (RATU) Sebar Dividen Rp45 per Saham, Simak Jadwalnya
Komitmen ESG, Bank Raya (AGRO) Dorong Pembiayaan Inklusif
Sillomaritime (SHIP) Bagi Dividen Rp95M, Tandai Jadwal Cum Date-nya!
ASSA Ekspansi ke Bisnis Digital, Rogoh Rp5,1 Miliar untuk Dirikan TMS





