EmitenNews.com - Pada 7 Oktober 2026, dua emiten sawit yang dimiliki pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, yakni PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN), melaporkan satu hal yang sama kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pemegang saham pengendali di masing-masing perusahaan menandatangani akta gadai saham pada 30 September 2026 yang merupakan bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. 

Gadai saham pengendali merupakan praktik yang lazim dalam pembiayaan, sehingga pengumuman semacam ini sering berlalu tanpa banyak perhatian. Namun ukuran transaksinya kali ini membuatnya layak dibaca lebih cermat. 

Pertanyaan yang muncul sederhana, berapa besar pinjaman yang mungkin ditopang oleh jaminan tersebut, dan dari mana dana untuk melunasinya?

Apa yang Tertulis dalam Dokumen

Pada JARR, PT Eshan Agro Sentosa selaku pengendali menggadaikan 7.997.556.204 lembar saham. Jumlah itu merupakan seluruh kepemilikannya dan setara 86,64% dari seluruh saham Perseroan. 

Sementara pada PGUN, PT Araya Agro Lestari selaku pengendali menggadaikan 2.205.667.896 lembar saham, juga seluruh kepemilikannya yang setara 38,39% dari seluruh saham Perseroan. Akta pada kedua perusahaan dibuat di hadapan notaris pada tanggal yang sama, dan penerima gadainya adalah Bank Mandiri.

Kedua emiten menegaskan bahwa gadai ini tidak mengubah pengendalian, tidak menimbulkan dilusi, dan tidak mengubah modal ditempatkan maupun modal disetor. Artinya, selama kewajiban kredit dipenuhi, pemilik tetap menjadi pengendali dan tidak ada saham baru yang terbit.

Namun, ada satu hal yang perlu dicermati. Dokumen menyebut gadai itu menjamin fasilitas kredit milik "afiliasi", tanpa menyebut nama peminjam, nilai kredit, bunga, maupun jangka waktu. Redaksinya pun belum seragam. 

Pada bagian jenis informasi tertulis fasilitas diperoleh "Perseroan", sedangkan pada uraian rinci tertulis "afiliasi Perseroan". Karena itu, seluruh angka pinjaman dalam tulisan ini adalah simulasi untuk memahami skala, bukan fakta mengenai besar kredit yang sebenarnya.