Mesin Pertumbuhan Baru Non Batu Bara, Saham BUMI Meroket
:
0
Aktivitas penambangan di area konsesi milik perseroan. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Bumi Resources (BUMI) telah menyiapkan berbagai proyek strategis untuk menjadi perusahaan tambang multi-platform. Proyek-proyek tersebut dinilai bakal menempatkan BUMI lebih unggul dari kompetitor, dan mendongkrak harga saham.
Analis Panin Sekuritas Cliff Nathaniel menilai pasar mulai memberi perhatian lebih besar terhadap perkembangan aset non-coal BUMI karena sejumlah proyek kini telah memasuki tahap lebih matang. Proyek paling dekat dengan tahap produksi yaitu Wolfram Limited di Queensland, Australia. Kegiatan penambangan ditarget mulai April 2026, dan produksi komersial diperkirakan berlangsung pada Mei hingga Juli 2026.
Wolfram juga telah mengamankan kontrak offtake selama tujuh tahun dengan Glencore untuk seluruh output tambang Mt. Carlton. Menurut Cliff, keberadaan kontrak tersebut memberi visibilitas lebih baik terhadap prospek pendapatan proyek. Cliff menilai offtake 7 tahun dengan Glencore memberi kepastian komersial bagi Wolfram. “Ini penting karena BUMI tidak hanya masuk aset non-coal, tetapi sudah memiliki jalur pemasaran jelas untuk output produksinya,” tegas Cliff.
Selain Wolfram, BUMI juga memiliki eksposur terhadap Jubilee Metals Limited (JML) yang ditarget mulai berproduksi pada kuartal IV/2026. BUMI juga tengah menyelesaikan rencana akuisisi 45 persen PT Laman Mining ditarget rampung pada Agustus 2026. Kombinasi ketiga aset tersebut dinilai dapat mempercepat transformasi BUMI dari perusahaan batu bara menjadi perusahaan sumber daya alam lebih terdiversifikasi.
Cliff menambahkan BUMI punya peluang untuk melampaui peers karena bisnisnya tidak lagi hanya batubara. ”Bisnis batu baranya masih kuat, efisiensi operasional membaik, sementara aset non-coal mulai masuk fase konkret. Jika Wolfram, JML, dan Laman Mining mulai berkontribusi signifikan, target EBITDA 50:50 bisa saja tercapai lebih cepat,” urai Cliff.
Sementara itu, bisnis batu bara tetap menjadi penopang utama kinerja perseroan. Pada kuartal I/2026, pendapatan BUMI meningkat 19,7 persen menjadi USD417,7 juta. Pertumbuhan tersebut mendorong kenaikan laba sebelum pajak 93,1 persen, dan peningkatan laba bersih 36,6 persen menjadi USD41,1 juta. Kinerja operasional juga menunjukkan perbaikan. Produksi batu bara naik menjadi 19,2 juta ton, penjualan meningkat menjadi 19,1 juta ton, dan strip ratio turun menjadi 7,7 kali dari sebelumnya 8,4 kali.
Selain itu, depresiasi rupiah juga dinilai dapat memberi manfaat tambahan bagi perseroan mengingat mayoritas pendapatan BUMI berbasis dolar Amerika Serikat (USD), sementara sebagian kewajiban diterbitkan dalam rupiah.“Untuk emiten dengan earnings USD, pelemahan rupiah bisa menjadi natural hedge ketika ada kewajiban rupiah. Kalau arus kas USD BUMI tetap kuat, kemampuan perseroan memenuhi kewajiban rupiah berpotensi lebih terjaga,” ujar Cliff. (*)
Related News
SRTG Cairkan Dividen Jumbo, Laba Kuartal I Melesat 187 Persen
Resmikan Dermaga Ekspor, SMGR Targetkan Kirim 450MT Semen Khusus ke AS
ARGO Jajaki Tenant Baru Usai J&T Cargo Masuk, Diam-Diam Sahamnya Naik
Prospek Bisnis Berkelanjutan, Saham IPPC Semakin Dilirik Investor
IHSG Parkir di Zona Hijau, DSSA dan Grup Barito Jadi Motor Penguatan
Laba Naik 231 Persen, IDEA Mantapkan Fondasi Pertumbuhan Kinerja 2026





