Dalam risetnya, Fakhrul Arifin mencermati bahwa ada tren operator telekomunikasi akan lebih memilih kolokasi atau menyewa menara yang sama dengan operator telekomunikasi lain daripada built to suit (B2S) yakni membangun sendiri menara.
"Oleh karena itu, kami memperkirakan permintaan menara kolokasi akan terus tumbuh di luar Jawa, dengan MTEL sebagai penerima manfaat utama," ujar Fakhrul.
Sejalan dengan Fakhrul, Analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis mengatakan MTEL memiliki kapasitas untuk mendominasi pesanan kolokasi baru dari perusahaan telekomunikasi yang ingin melakukan ekspansi di wilayah luar Jawa karena keunggulan time-to-market.
"Dalam jangka menengah, operator telekomunikasi akan membuat pesanan baru pada tahun 2024-2025 ke MTEL karena mereka tidak mampu mengoperasikan jaringan tanpa jejak MTEL," ujar Niko.
Fakhrul memprediksi MTEL meraih pendapatan full year 2023 Rp8,61 triliun, meningkat 11,37% dari setahun sebelumnya, dengan EBITDA mencapai Rp6,85 triliun, meningkat 11,8%. Sementara itu, Niko Margaronis memprediksi MTEL menutup tahun dengan pendapatan Rp8,59 triliun dengan EBITDA Rp6,99 triliun.
Konsensus analis merekomendasikan Beli saham MTEL dengan target harga rata rata Rp915. Dari 21 sekuritas yang meng cover MTEL, seluruhnya atau 100% menyematkan status Beli.
Related News

Pengendali IDPR Belum Berhenti Borong Saham, Ada Apa?

Emiten TP Rachmat (ASSA) Cetak Laba Melonjak di 2024

Nusa Raya Cipta (NRCA) Bukukan Pendapatan Rp3,3T Sepanjang 2024

Penjualan Oke, Laba ENAK 2024 Tergerus 16 Persen

Melejit 708 Persen, Pendapatan BEEF 2024 Sentuh Rp4,93 Triliun

Rugi Menipis, Emiten Sri Tahir (SRAJ) 2024 Defisit Rp542 Miliar