EmitenNews.com - Pasar saham AS ditutup pada hari Kamis dengan kerugian besar, mencatatkan penurunan harian terdalam dalam 19 bulan terakhir. Pemicunya kemerosotan tajam pada saham-saham sektor teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1.834,84 poin, atau 3,44%, menjadi 51.521,28. Indeks S&P 500 jatuh tajam sebesar 4,35%, atau 334,82 poin, menjadi 7.353,80, sementara indeks Nasdaq Composite melemah 5,52%, atau 1.421,52 poin, dan ditutup pada level 24.315,00.

Indeks Volatilitas (VIX), yang sering disebut sebagai "indeks ketakutan" pasar, melonjak 61,89% ke angka 26,89.

Penurunan ini, seperti diberitakan Anadolu, Jumat (6/11/2026), menandai kejatuhan harian terdalam bagi indeks-indeks utama saham AS sejak April 2025, saat pengumuman kebijakan tarif menyeluruh oleh Presiden Donald Trump memicu gejolak di pasar global.

Tekanan jual di seluruh Wall Street meningkat seiring dengan langkah para investor yang mengevaluasi kembali valuasi tinggi perusahaan-perusahaan teknologi raksasa (megacap) setelah munculnya sejumlah kabar terbaru dari korporasi tersebut.

Sentimen pasar semakin melemah di tengah meningkatnya keraguan mengenai kapan pengeluaran besar-besaran perusahaan untuk kecerdasan buatan (AI) akan benar-benar menghasilkan keuntungan yang berarti.

Tekanan berkelanjutan akibat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) yang tinggi juga menurunkan minat terhadap saham, karena meningkatkan biaya pinjaman sekaligus menawarkan imbal hasil bebas risiko yang menarik.

Aksi ambil untung (profit-taking) secara luas di sektor industri dan konsumen turut memperparah momentum penurunan, menyusul kenaikan pasar yang sempat terjadi sebelumnya.
Ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral di masa depan membuat para pelaku pasar tetap berhati-hati, sehingga membatasi minat untuk melakukan pembelian saat harga turun (dip-buying) menjelang penutupan perdagangan.

Menyusul kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat, harga energi mencatatkan penurunan signifikan pada Rabu malam hingga Kamis pagi.

Meski sempat mengalami pemulihan, harga minyak mentah Brent berada di angka $98,40 per barel pada pukul 21.00 GMT, setelah sebelumnya sempat diperdagangkan di atas $110 pada awal pekan ini.