Pasar Tunggu Efektivitas Jurus Pemerintah Tekan Defisit APBN
Menteri Keuangan Purbaya usai konferensi pers pembayaran APBN. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu terkoreksi 5,91 persen menjadi 7.137. Itu terjadi di tengah peningkatan tekanan sentimen global, dan domestik. Efeknya, aliran dana asing mencatat net sell sebesar Rp1,2 triliun.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menegaskan pelemahan terutama dipicu peningkatan tensi geopolitik antara Amerika Serikat vs Iran masih berlanjut, dan memicu lonjakan harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara. Kondisi itu, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi, dan kemungkinan kebijakan moneter global lebih ketat dalam jangka waktu lebih lama.
Pasar domestik mencermati pernyataan pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya mulai mempertimbangkan penyesuaian atau pengurangan beberapa pos belanja APBN untuk menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). ”Kombinasi ketidakpastian global, dan kehati-hatian kebijakan fiskal tersebut mendorong investor cenderung mengambil posisi risk-off, sehingga menekan pergerakan indeks sepanjang pekan lalu," tegasnya.
Perdagangan berlangsung 2 hari bursa yaitu 16-17 Maret 2026 menyusul libur panjang Nyepi dan Idulfitri, pergerakan indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite diperkirakan masih berada di bawah tekanan seiring kontrak futures indeks AS bergerak melemah, mengindikasikan potensi lanjutan tekanan jual awal pekan.
Sentimen negatif terutama dipicu peningkatan ketidakpastian pasokan energi global setelah harga minyak West Texas Intermediate terus melonjak menyusul kebijakan Iran tetap menutup Strait of Hormuz sejak akhir Februari 2026, jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Iran menjadikan penutupan selat itu, sebagai instrumen tekanan terhadap negara-negara lawan.
Keadaan itu, makin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan suplai energi global, dan dampaknya terhadap inflasi. ”Meski demikian, perkembangan terbaru menunjukkan adanya nuansa berbeda setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal-kapal bukan dari AS, Israel, dan sekutunya," jelas Hari.
Ia meyakini dinamika geopolitik membuat investor global cenderung mempertahankan sikap risk-off dalam jangka pendek, sehingga volatilitas pasar saham AS diperkirakan tetap tinggi selama ketidakpastian geopolitik, dan stabilitas pasokan energi global belum menunjukkan tanda mereda.
Sementara itu sentimen pasar domestik diperkirakan akan dipengaruhi dinamika fiskal, dan kebijakan moneter di tengah kenaikan harga komoditas energi global. Lonjakan harga migas dan batu bara berpotensi meningkatkan tekanan terhadap fiskal pemerintah, sehingga mendorong kebutuhan langkah cepat untuk menjaga defisit anggaran tetap terkendali.
Apabila defisit fiskal terus melebar, beberapa risiko dapat muncul antara lain meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah, tekanan terhadap imbal hasil obligasi negara, dan potensi pelemahan nilai tukar akibat lonjakan persepsi risiko investor terhadap stabilitas fiskal. Pelebaran defisit juga dapat mempersempit ruang stimulus fiskal di tengah ketidakpastian global.
Nah, dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Di mana, secara konsensus bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate guna menjaga stabilitas nilai tukar, dan inflasi di tengah meningkatnya tekanan eksternal. "Kombinasi dinamika fiskal dan arah kebijakan moneter akan menjadi faktor utama membentuk sentimen, dan arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek,” terang Hari.
Ia memprediksi pergerakan Indeks bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Itu seiring sentimen eksternal dominan membayangi pasar. Ketidakpastian global dipicu eskalasi geopolitik AS vs Iran belum menunjukkan tanda titik terang menuju perdamaian. "Selama konflik berlangsung, volatilitas pasar global tetap tinggi karena investor cenderung mengadopsi sikap risk-off,” imbuhnya.
Ia menambahkan selain itu, faktor musiman menjelang libur panjang lebaran berpotensi membuat aktivitas transaksi pasar relatif lebih terbatas, dengan sebagian investor cenderung menahan diri untuk mengambil posisi baru hingga periode libur berakhir. (*)
Related News
Presiden Minta Kaji Penghematan BBM Antisipasi Memanasnya Geopolitik
Bagini Cara Tri Rayakan Pelanggan Setia Jakarta Raya
Orang Kaya Pembayar Pajak Tinggi Naik 5,1 Persen, Cek Pendorongnya
PGE Ajak Generasi Muda Kenal Peluang Investasi Saham Energi Bersih
Asuransi Jasindo Raih Penghargaan Bergengsi, Ini Sebabnya
Dekati Lebaran, Harga Bapok Masih Terkendali





