EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin kembali ditutup melemah. Itu seiring antisipasi investor terhadap keputusan The Fed soal suku bunga acuan di tengah lonjakan imbal hasil obligasi, dan getaran harga minyak mentah dunia. Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun sempat naik menyentuh level 5,041 persen.

Itu merupakan capaian tertinggi sejak 2007 namun kemudian ditutup di 5,00 persen. Seperti diketahui belakangan kenaikan imbal hasil obligasi menjadi perhatian investor di pasar saham di tengah peningkatan kekhawatiran konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS), dan Iran.

Eskalasi konflik itu, dikhawatirkan memicu inflasi, dan mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan. Di sisi lain, setelah Arab Saudi menghentikan operasional pipa minyak mentah yang mem bypass Selat Hormuz, harga minyak mentah kembali melanjutkan kenaikan.  Jenis WTI naik lebih dari 4 persen menjadi USD105,83 per barel, dan Brent menguat hampir 3 persen menjadi USD108,75 per barel.

Koreksi indeks bursa Wall Street menjelang keputusan The Fed mengenai suku bunga acuan berpotensi naik 25 bps diprediksi menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG0. Aksi jual investor asing masih berlanjut berpeluang menjadi tambahan sentimen negatif pasar.

IHSG diprediksi melanjutkan pelemahan dengan kisaran support 6.390-6.320, dan resistance 6.530-6.605. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan saham Cimory (CMRY), Erajaya (ERAA), Bumi Mineral (BRMS), Timah (TINS). Adaro Andalan (AADI), dan Astra Otoparts (AUTO). (*)