EmitenNews.com - Indonesia bakal memenuhi kebutuhan listrik bersih Singapura. Saat ini, kedua pihak terus mematangkan rencana ekspor listrik bersih dari Indonesia ke Singapura. Kebijakan ini harus didahului dengan pembangunan industri berteknologi tinggi di Indonesia. Kawasan Kepulauan Riau kelak diharapkan berkembang menjadi pusat industri hijau baru di Tanah Air.

Dalam keterangannya seperti dikutip Senin (16/3/2026), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah ingin memanfaatkan ketersediaan energi hijau untuk menarik perusahaan-perusahaan global membangun fasilitas produksi dan pusat teknologi di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK). Harapannya, kawasan Kepulauan Riau tersebut dapat berkembang menjadi pusat industri hijau baru di Indonesia.

"Kawasan industri itu sudah hampir final. Nanti kita akan bangun di wilayah Kepulauan Riau (Kepri). Kalau itu sudah selesai, maka saya pikir ini salah satu kemajuan dalam persiapan," ungkap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam pertemuan dengan Minister for Manpower sekaligus penanggung jawab energi Singapura Tan See Leng di Tokyo, Jepang pada Minggu (15/3/2026) waktu setempat.

Dikutip dari keterangan resmi Kementerian ESDM, Minister Tan See Leng menyambut baik progres teknis terkait kerja sama ini. "Saya rasa sebagian besar diskusi teknikal sudah mengalami kemajuan yang baik."

Dalam pertemuan itu, kedua negara juga menyinggung pengembangan kawasan industri berkelanjutan di Batam, Bintan, dan Karimun. Pemerintah menyiapkan skema agar kebutuhan listrik dalam negeri tetap diprioritaskan sebelum ekspor, sekaligus membuka peluang kerja sama teknologi rendah karbon seperti penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture Storage/CCS).

Yang juga menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan ini adalah terkait ekspor listrik. Bahlil menawarkan ekspor listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sejalan dengan program kelistrikan 100 gigawatt (GW) yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan domestik dan juga dapat diekspor ke negara tetangga. Namun, terdapat tantangan dari segi harga. Rupanya, harga energi hijau lebih mahal daripada harga energi fosil.

Bagusnya, menutup pertemuan, kedua menteri sepakat bahwa sinergi ini adalah pembuktian kepemimpinan energi di ASEAN. Dengan dukungan teknis dan investasi dari Singapura serta sumber daya melimpah dari Indonesia, visi menjadi pemain kunci dalam rantai pasok energi hijau kini berada di jalur yang tepat. 

Implementasi nyata melalui pilot project di kawasan BBK diharapkan dapat segera dimulai dalam waktu dekat sebagai bukti konkret dari tiga MoU yang telah ditandatangani sebelumnya. ***