EmitenNews.com - Harga minyak mentah bertahan di atas USD93 per barel, sementara minyak mentah Brent bertahan di atas USD106 per barel pada Selasa (13/10). Kenaikan harga ini bertahan selama tiga sesi berturut-turut yang didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasokan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan berlanjutnya serangan di Ukraina.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak mentah dunia ini berpotensi meningkatkan beban anggaran subsidi BBM dan menekan nilai tukar rupiah jika tren kenaikan terus berlanjut.

Menurut Trading Economics meningkatnya risiko pasokan di Timur Tengah ini dipicu oleh serangkaian serangan rudal dan drone militan Houthi yang didukung Iran terhadap bandara utama di Riyadh, Arab Saudi. Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk satu warga negara Amerika Serikat, serta melukai sekitar 300 orang lainnya.

Situasi ini menempatkan Pemerintahan Donald Trump di bawah tekanan yang semakin besar untuk memberikan bantuan kepada Arab Saudi dalam perangnya menghadapi militan Houthi di Yaman.

Sementara itu di Eropa Timur, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bersumpah untuk melanjutkan serangan terhadap Rusia sebagai balasan atas tindakan Moskow yang terus menargetkan infrastruktur energi Ukraina. Tindakan Rusia tersebut dinilai melanggar gencatan senjata energi yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Utusan Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff, dilaporkan memberi tahu pejabat Ukraina bahwa mengizinkan ekspor diesel Rusia yang kontroversial merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk membawa Moskow kembali ke meja perundingan guna mengakhiri perang.

Kondisi geopolitik yang memanas di dua kawasan produsen dan jalur energi vital tersebut membayangi stabilitas pasokan minyak mentah dunia.

Pasar keuangan dan komoditas global kini terus memantau perkembangan konflik serta potensi dampaknya terhadap lonjakan harga energi di tingkat konsumen, termasuk potensi dampaknya pada inflasi di negara-negara berkembang seperti Indonesia.(*)