Peluang Bunga The Fed Naik Oktober Turun di Bawah 15 Persen
:
0
Peluang Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan bulan Oktober 2026 terus mengalami penurunan tajam.
EmitenNews.com - Peluang Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan bulan Oktober 2026 terus mengalami penurunan tajam. Kondisi ini memperkuat ekspektasi para pelaku pasar global bahwa para pembuat kebijakan bank sentral Amerika Serikat tersebut akan memilih untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil.
Berdasarkan laporan Bloomberg pada Minggu (25/10), probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Oktober yang tersirat dari transaksi pasar swap suku bunga telah merosot hingga di bawah 15 persen. Pergerakan ini mencerminkan memudarnya spekulasi pengetatan moneter lanjutan di tengah penurunan saham sektor kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
Penurunan ekspektasi ini juga dipicu oleh nada kehati-hatian yang berulang kali disampaikan oleh sejumlah pejabat senior The Fed. Presiden Bank Federal Reserve New York John Williams sebelumnya sempat menyatakan pada Selasa (29/9) bahwa satu kenaikan suku bunga tambahan tahun ini mungkin tepat.
Namun, Wakil Ketua Fed Philip Jefferson dan Gubernur Christopher Waller kemudian mengindikasikan bahwa otoritas tidak perlu terburu-buru melakukan kenaikan lebih lanjut, yang menyeret probabilitas kenaikan suku bunga dari level 70 persen ke kisaran 25 persen.
Ketua Fed Kevin Warsh juga memberikan pandangannya dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Jumat (16/10) terkait arah kebijakan moneter mendatang.
"Saya tidak akan mendahului keputusan suku bunga di masa mendatang," kata Ketua Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional pada Jumat (16/10).
Sikap netral tersebut ditangkap pasar sebagai indikasi bahwa The Fed tidak secara tegas menolak ekspektasi penundaan kenaikan suku bunga pada Oktober, meskipun data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang dirilis pada Rabu (14/10) sempat mencatatkan laju kenaikan tercepat dalam lima bulan.
Dari sudut pandang pengelola dana global, manajer portofolio di Columbia Threadneedle Ed Al-Hussainy memberikan komentarnya terkait dinamika tersebut.
"Data ekonomi mendukung kenaikan suku bunga dan komentar The Fed adalah satu-satunya faktor yang memisahkan kenaikan dari penundaan kenaikan suku bunga," ujar Ed Al-Hussainy seperti dikutip dari Trading Economics.
Kepastian sikap The Fed dalam menahan suku bunga menjadi sentimen penting bagi pasar keuangan Indonesia. Keputusan ini berpotensi meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta menjaga kestabilan arus modal asing di pasar obligasi dan saham domestik.(*)
Related News
Gejolak Timur Tengah Kerek Inflasi, Emas Masih Tertekan
Pengurangan Pasokan Gas RI Berimbas ke Tarif Listrik Singapura
Minyak Brent Di Bawah USD116, Pasar Pantau Keputusan Trump
Parpol Singapura Protes Pemangkasan Ekspor Gas RI
Hubungan RI-Singapura Memanas? PM Wong Desak RI Hormati Kontrak Gas
Efek MSCI Meluas, BI Ungkap Asing Keluar dari Saham Hingga SBN & SRBI





