Perkuat Inflasi Daerah, BI Selenggarakan GPIPS Sumatera 2026
Bank Indonesia menyelenggarakan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Sumatera 2026. GPIPS Sumatera 2026 yang mengangkat tema "Menjaga Ketersediaan Pasokan Pangan Periode HBKN dan Antisipasi Risiko Curah Hujan Tinggi," dok. WartaNasional.
EmitenNews.com - Perkuat inflasi di daerah, Bank Indonesia menyelenggarakan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Wilayah Sumatera 2026. GPIPS Sumatera 2026 yang mengangkat tema "Menjaga Ketersediaan Pasokan Pangan Periode HBKN dan Antisipasi Risiko Curah Hujan Tinggi,"
Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali dalam keterangannya yang dikutip Senin (16/2/2026), mengatakan per Januari 2026, inflasi nasional meningkat menjadi 3,55% year-on-year dari sebelumnya 2,92% year-on-year pada 2025. Hal ini menunjukkan adanya tekanan harga di awal tahun, terutama dari kelompok volatile food.
"Perkembangan ini menegaskan bahwa upaya pengendalian inflasi pangan tetap perlu diperkuat secara konsisten dan berkelanjutan," ungkapnya dalam Seremoni Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), Rabu (11/2/2026).
Pengendalian inflasi pangan semakin kompleks. Risiko perubahan iklim, cuaca ekstrem, gangguan distribusi, serta karakteristik komoditas pangan yang bersifat musiman, khususnya hortikultura, masih menjadi sumber utama volatilitas harga.
"Kondisi ini menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi, tidak hanya berfokus pada stabilisasi harga jangka pendek, tetapi juga pada penguatan ketahanan pasokan pangan secara struktural," katanya lagi.
Pelaksanaan GPIPS Wilayah Sumatera yang dipusatkan di Sumatera Selatan, khususnya Kabupaten Banyuasin, memiliki pertimbangan strategis. Sebab Sumatera Selatan merupakan salah satu sentra produksi pangan nasional dan tercatat sebagai produsen beras terbesar ketiga nasional.
"Wilayah Sumatera memiliki bobot inflasi yang cukup besar terhadap inflasi nasional, yakni sekitar 18,22%, sehingga penguatan ketahanan pangan dan stabilitas harga di wilayah ini akan memberikan dampak signifikan bagi inflasi nasional," jelas Ricky P. Gozali.
BI berkomitmen mendukung penguatan ketahanan pangan dan stabilitas harga melalui pengembangan klaster pangan, peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan petani, serta sinergi yang semakin erat dengan pemerintah daerah.
BI mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, seperti inovasi digital SiBenih dan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP). Inovasi tersebut mampu membangun ekosistem pangan dan menahan tekanan inflasi dari sisi pasokan.
Beberapa strategi BI di antaranya meningkatkan produksi pangan, khususnya hortikultura, melalui antisipasi risiko cuaca dan iklim antara lain dengan pemanfaatan bibit unggul, teknologi adaptif. Juga pengaturan pola tanam antar-komoditas yang lebih terkoordinasi antar-waktu dan antar-wilayah.
"Kami mengharapkan dukungan kementerian terkait khususnya Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Kementerian Pertanian," ungkap Ricky.
Kedua, memperlancar distribusi dan konektivitas antarwilayah untuk memperkuat stabilitas harga, melalui peningkatan efisiensi logistik dan optimalisasi kerja sama antar daerah (KAD) sebagai instrumen penguatan rantai pasok bersinergi dengan BUMN logistik.
Ketiga, perlunya memperkuat sinergi antar Pemerintah Pusat-Daerah untuk efektivitas kebijakan antara lain melalui pemanfaatan data neraca pangan untuk KAD dan penguatan peran BUMD/Perusahaan Pangan Daerah sebagai off-taker.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menjelaskan Kabupaten Banyuasin, Palembang, Sumatera Selatan, ditunjuk sebagai tuan rumah GPIPS karena wilayah ini merupakan kabupaten dengan produktivitas tertinggi secara nasional.
Penunjukan itu dengan berbagai alasan. Jadi, tidak serta-merta bukan karena jaraknya dekat dari Palembang. Tapi memang karena prestasi daerah ini sehingga mengangkat harkat dan perkenalan daerah ini.
Provinsi Sumatera Selatan merupakan peringkat ketiga secara nasional sebagai wilayah penghasil pangan dari sebelumnya peringkat delapan. Peringkat tersebut diraih melalui kerja sama dengan BI dan beberapa kementerian terkait.
"Jadi ada lompatan besar sebagai provinsi dengan produktivitas tertinggi di Indonesia. Jadi lompatannya dari 8 sempat, 5 sebentar 5, saat ini kita peringkat 3," urai Gubernur Sumsel Herman Deru. ***
Related News
TNI AL Pamerkan Hasil Sitaan 496 Ton Timah di Babel, Ini Kata Gubernur
Gandeng 10 Bank Umum, BI Layani Tukar Uang Baru Idul Fitri di Banten
Tradisi Imlek Sarana Pendidikan Karakter di Vihara Viriya Bala Jaktim
Awal Ramadan 2026 Berpotensi Berbeda, Muhammadiyah 18 Februari
Diplomasi Global Prabowo: Kunjungan ke AS dan Agenda dengan Trump
Menteri LH Sambut Positif Fatwa MUI Haram Buang Sampah Ke Sungai





