EmitenNews.com - Indonesia bakal memiliki pabrik bioetanol hasil kerja sama Pertamina New & Renewable Energy (NRE) dan Toyota. Proyek tersebut dirilis untuk mendukung salah satu program strategis pemerintah terkait mandatori pencampuran bioetanol sebesar 10% (E10) pada Bahan Bakar Minyak (BBM) bensin paling lambat 2028. Sejumlah pertimbangan logis sampai akhirnya dipilih Lampung sebagai lokasi proyek ini.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menyampaikan hal tersebut saat konferensi pers di Gedung Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ BKPM, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan bioetanol, antara lain melalui kebijakan mandatori pencampuran biofuel, dengan roadmap E5 pada 2026-2027, lalu E10 pada 2028-2030, hingga target jangka panjang menuju E20.

Kerja sama antara Pertamina NRE dan Toyota ini difokuskan pada pengembangan bioetanol dengan teknologi 2G atau second generation berbasis multi-feedstock, yang memanfaatkan sumber daya domestik seperti biomassa kelapa sawit, jagung, dan sorgum.

"Etanol ini adalah salah satu energi bauran terbarukan yang kita rencanakan untuk develop. Pemerintah sudah menetapkan kita maksimal mandatori di tahun 2028," ungkap Todotua Pasarbitu di gedung BKPM, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Kolaborasi antara Pertamina dan Toyota menjadi sinergi antara BUMN dan investor global dalam membangun ekosistem energi masa depan di Indonesia.

Dengan adanya kesepakatan ini, proses kerja sama telah bergerak mulai dari tahap penjajakan menuju tahap yang lebih konkret dan terukur, sehingga memberikan arah yang lebih jelas bagi realisasi proyek.

"Program ini sebenarnya sudah kita jalankan dari tahun kemarin. Tetapi kita silent memang development-nya. Sudah ada rencana kooperasinya antara Pertamina New Renewable Energy dengan Japanese Group. Dalam hal ini nanti yang akan ditunjuk adalah Toyota Tsusho yang akan menjadi partner," ungkapnya.

Rencana pembangunan bioetanol ini akan dilakukan di wilayah Lampung. Karena Lampung merupakan salah satu provinsi yang sangat kuat untuk ketersediaan feedstock terhadap etanol ini. Di wilayah ini ada penanaman besar tebu, selain ubi dan feedstock-feedstock yang lain. 

“Jadi nanti ini rencananya selain pembangunan plan juga nanti ada rencananya juga untuk pembangunan apa namanya penanaman daripada salah satu support team feedstock-nya yaitu sorgum," jelasnya.

Untuk tahap awal kapasitas produksi pabrik bioetanol ini sebesar 60.000 kilo liter (kl) per tahun. Targetnya menargetkan konstruksi pabrik bioetanol ini ditargetkan mulai dibangun pada Kuartal III atau paling lambat Kuartal IV 2026 ini.

"Untuk budgetnya sedang berjalan karena juga sudah ada ditunjuk konsultan feasibility-nya. Ini sudah almost done untuk itu, jadi konstruksinya akan kita mulai tahun ini. Target di Q3, maksimal di Q4 tahun ini," katanya.

Sementara itu Chief Executive Officer untuk wilayah Asia Masahiko Maeda mengatakan, kerja sama tersebut tak terlepas dari keterkaitan perusahaan pada bisnis sektor otomotif. Ia mengungkapkan, etanol juga dapat digunakan pada kendaraan yang telah diproduksi. "Bersama dengan pemerintah, kita bisa memberikan (etanol pada) jenis kendaraan yang sudah kita miliki." ***