PKPU Berakhir Damai, Borneo Olah Sarana (BOSS) Genjot Produksi Anak Usaha

EmitenNews.com - Borneo Olah Sarana Sukses (BOSS) bisa bernapas lega. Pasalnya, anak usaha perseroan yaitu PT Pratama Bersama bebas dari lilitan penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Itu terjadi setelah Pratama Bersama mencapai kesepakatan damai dengan para kreditur.
Menyusul hasil itu, Pratama Bersama telah menuntaskan proses PKPU. Selanjutnya, seluruh kegiatan operasional dapat berjalan Kembali dengan normal. Dampak dari aspek keuangan, seluruh aktivitas keuangan berjalan normal. Di mana, sebelumnya seluruh otoritas diawasi, dan diambil-alih pengurus untuk sementara waktu dalam perkara PKPU, otoritas itu telah dikembalikan kepada perseroan.
Perseroan berusaha menyelesaikan seluruh kewajiban sesuai perjanjian perdamaian telah di Homologasi. ”Perampungan perkara PKPU Pratama Bersama, perseroan akan melanjutkan produksi Pratama Bersama untuk mempertahankan kesinambungan usaha (going concern),” tutur Widodo Nurly S, Direktur Borneo Olah Sarana, kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (24/11).
Sekadar diketahui, pada Senin, 22 November 2021, telah dilaksanakan Sidang Permusyawaratan Majelis Hakim di Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Di mana, pada persidangan telah dibacakan putusan dengan amar pokok: menyatakan PKPU terhadap Pratama Bersama berakhir karena perdamaian.
Menyatakan sah dan mengikat perjanjian perdamaian antara Pratama Bersama dengan para kreditor sebagaimana tertuang dalam perjanjian pedamaian tertanggal 1 November 2021 yang telah ditandatangani oleh Pratama Bersama dan para kreditor. Memerintahkan Pratama Bersama tunduk, mematuhi, dan melaksanakan isi perdamaian tersebut. (*)
Related News

Dua Saham Ngebut Lepas Suspensi, Satu Masih Ngegas ARA

Laba Tebal, Valuasi Murah! Asuransi Umum Jadi Incaran

Tuntas, SILO Alihkan 20,96 Juta Saham Treasuri

Emiten Prajogo (PTRO) Tarik Pinjaman Rp2,5 T, Telisik Alokasinya

Belum Ada Investor Strategis, MSIN Beber Private Placement Jumbo

Drop 38 Persen, Laba BSSR Paruh Pertama 2025 Sisa USD49,67 Juta