Produksi Minyak Pertamina Hulu Indonesia Triwulan I, Lampaui Target
:
0
Ilustrasi PT Pertamina Hulu Indonesia. Dok. Pertamina Hulu Indonesia.
EmitenNews.com - PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) mengukuhkan diri demi keberlanjutan produksi migas dalam mendukung pencapaian target produksi nasional dan ketahanan energi. Bagian dari Subholding Upstream PT Pertamina (Persero) itu, memproduksi 60,44 ribu barel minyak per hari (mbopd) dan 619 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd), selama triwulan I 2026.
“Itu berarti masing-masing setara 120 persen dan 105 persen dari target produksi tahun ini. Kami terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi demi keberlanjutan produksi migas dalam mendukung pencapaian target produksi nasional dan ketahanan energi Indonesia,” ujar Direktur Utama PHI, Sunaryanto dalam keterangan pers, Sabtu (16/5/2/2026).
Keberhasilan perusahaan dalam mendorong inovasi dan keandalan fasilitas menjadi salah satu elemen kunci dalam meningkatkan produksi. Penerapan inovasi dan teknologi merupakan langkah strategis dalam menahan laju penurunan produksi, meningkatkan recovery rate, dan mempertahankan tingkat produksi lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan.
Sunaryanto mengungkapkan bahwa PHI juga melakukan kegiatan pemeliharaan, perbaikan, dan reaktivasi sumur sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan memperpanjang usia sumur dan lapangan migas.
”Berkat inovasi, kolaborasi lintas fungsi, dan sinergi yang terbentuk menjadikan proyek-proyek utama PHI dalam rencana kerja tahun 2026 dapat mencatatkan hasil seperti yang diharapkan,” katanya.
Salah satu inovasi yang diterapkan oleh anak perusahaan PHI adalah penerapan metode High Pour Point Oil (HPPO) di Lapangan Handil, yang dikelola anak perusahaan PHI, yakni PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Juga Lapangan Mutiara serta Lapangan Pamaguan, yang dikelola anak perusahaan PHI lainnya, yakni PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).
Metode itu untuk mengatasi tantangan jenis minyak yang memiliki kandungan lilin atau parafin tinggi dengan titik tuang (pour point) lebih tinggi dibandingkan temperatur operasi pipa. Penggunaan pelarus khusus mampu menjaga minyak agar tetap cair (tidak membeku) sehingga aliran produksi berlangsung optimal dan berkelanjutan. Terobosan teknologi lainnya di PHM juga berhasil mengoptimalkan produksi dari sumur emulsi di Lapangan Tunu.
Lainnya, PHSS menerapkan inovasi Permanent Coiled Tubing Gas Lift (PCTGL) pada sumur-sumur kerja ulang (workover) di Lapangan Louise, Samboja, dan Mutiara. Teknologi gas lift dilakukan dengan menyuntikkan gas bertekanan ke dalam pipa sumur untuk membantu minyak lebih mudah terangkat ke permukaan. Inovasi ini berhasil meningkatkan produktivitas sumur dan mendukung pencapaian target produksi pada triwulan I 2026.
Selain itu, akselerasi pencatatan produksi minyak turut disumbangkan oleh anak perusahaan PHI, yakni PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dari Lapangan Kerindingan dan Lapangan Sapi, serta sumur sisipan (infill) baru di lepas pantai Kalimantan Timur.
Satu hal, upaya menjaga dan meningkatkan produksi tidak hanya melalui penerapan inovasi dan teknologi, namun juga pemeliharaan, perbaikan, dan reaktivasi sumur. Di PHM, misalnya, menjalankan Program Handil Rejuvenation di Lapangan Handil yang berhasil mendongkrak produksi lima persen dibandingkan sebelum pelaksanaan program.
Related News
Kata Presiden Orang Desa Tak Tersentuh Dolar, Cek Fakta Berbicara!
Garap Blok Tuna, Perusahaan Migas Rusia Zarubezhneft Siap Juni
Hadirkan Sahabat Berkahmu, BCA Syariah Catat Total Aset Rp19,9 Triliun
OCBC Perluas Layanan Finansial Lewat Akuisisi Wealth Management HSBC
Baru Seminggu Tembus 7.000, Hari ini Indeks Kospi 'Taklukkan' 8.000
Rupiah Pagi ini Sempat Tembus Rp17.600 per Dolar AS





