EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,94 persen menjadi 9.032 setelah sempat mencapai level intraday tertinggi baru 9.049. Ekspektasi penurunan suku bunga the Fed, kenaikan harga komoditas, aliran dana investor asing, dan aksi korporasi emiten menjadi faktor-faktor pendorong penguatan indeks.

Rupiah juga ditutup menguat menjadi Rp16.865 per dolar Amerika Serikat (USD) di pasar spot. Secara teknikal, terjadi golden cross indeks, dan pelebaran histrogram positif MACD. Sehingga indeks diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penguatan menguji level 9.070-9.100. 

Namun perlu diwaspadai potensi profit taking pada perdagangan Kamis, 15 Januari 2026, menjelang libur long weekend. Pemerintahan Presiden Prabowo akan menghidupkan kembali proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) tahun ini. Langkah hilirisasi itu, untuk menciptakan substitusi liquefied petroleum gas (LPG). 

MIND ID dan Pertamina bekerja sama untuk percepatan hilirisasi batu bara menjadi berbagai produk energi alternatif, termasuk DMW, synthetic natural gas (SNG), dan metanol. Kebijakan itu, berpotensi berpengaruh positif terhadap emiten batu bara yang melakukan penjualan ke dalam negeri. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menebitkan POJK 33/2025 mulai berlaku 1 Januari 2026 untuk mengatur penilaian tingkat kesehatan perusahaan perasuransian, lembaga penjamin, dan dana pensiun (PPDP) sebagai dasar bagi OJK dalam menetapkan strategi, dan penguatan pengawasan. 

Melalui pengaturan itu, OJK menetapkan metodologi penilaian tingkat kesehatan lebih terstruktur, dan berbasis risiko untuk mendukung pelaksanaan pengawasan secara efektif. Menilik data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor mengoleksi saham BRIS, BMRI, BBTN, PSAB, dan SSIA. (*)