EmitenNews.com - Air minum menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat. Salah satu problem akut warga masyarakat di wilayah perkotaan adalah ketersediaan air tawar, jernih dan siap langsung diminum semakin langka. 

Belakangan warga masyarakat yang tinggal di pedesaan pun, mulai terpengaruh budaya praktis ala orang kota. Bisnis air minum mulai menjamur ke pelosok desa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 56,7% atau 151 juta orang penduduk Indonesia tinggal di wilayah perkotaan dan diproyeksikan akan meningkat 66,6% di tahun 2035. 

Setiap 1 orang penduduk mengonsumsi 2 liter air per hari, maka bisa dibayangkan berapa besar kebutuhan air minum terhadap 150 juta penduduk perkotaan. Market air minum khususnya Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) tidak terbatas dan tidak akan pernah mati. Selama 288,3 juta jiwa di Indonesia masih hidup, pasar bisnis air minum terbuka lebar.

Air adalah komponen utama dalam tubuh manusia data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), sekitar 80% kebutuhan manusia merupakan hasil kontribusi air dan sisanya dari makanan. Secara umum orang dewasa disarankan untuk minum air putih sebanyak 2 liter atau setara 8 gelas air per hari. 

Saat ini, mulai tumbuh kesadaran tentang pola hidup sehat. Masyarakat perkotaan mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan. Mulai dari rajin mengonsumsi air putih dan meninggalkan minuman kemasan yang tinggi kadar gula. Air yang paling netral, bebas gula adalah air putih atau air mineral. 

Peluang pasar air minum memiliki prospek menjanjikan. Air minum dalam kemasan botol plastik, gelas plastik sangat praktis dibawa kemana-mana. Budaya masyarakat Indonesia belum terbiasa membawa air minum sendiri dari rumah, ketika bekerja atau sedang bepergian jauh. Tingginya permintaan air minum dalam kemasan tentu saja membuka peluang perusahaan air minum tumbuh dan berkembang di Indonesia. 

Dominasi Konglo dalam Bisnis Air Minum

Merujuk data Asosiasi Produsen Air Minum dalam Kemasan Nasional (Asparminas) ada lebih dari 2.000 merek dagang air minum dan baru 5% pasar air minum dikuasai perusahaan besar. Sedangkan 95% AMDK dimanfaatkan perusahaan kecil dan menengah. Pertumbuhan pasar air minum ini rata-rata mencapai 8- 10% pertahun. 

Melihat besarnya peluang pasar air minum dalam kemasan di Indonesia. Sejumlah konglomerat dan orang-orang terkaya di Indonesia tampak bersaing ketat mengambil ceruk bisnis AMDK. Merek air minum seperti, Aqua, Le Minerale, Cleo, Equil, Crystaline, Pristine, Aquviva dan Club merupakan merek dagang yang terafiliasi terhadap nama-nama sejumlah konglo dan orang-orang super kaya di Indonesia yang terus melakukan ekspansi mendominasi pasar air minum dalam kemasan. 

Sejumlah konglo seperti, Hermanto Tanoko dengan merek dagang Cleo (Avian grup), Club terafiliasi dengan Anthony Salim (Salim grup), Crystaline, Husain Djojonegoro (OT grup), Aquviva, Eddy William Katuari (Wings grup), Pristine, Fuganto Widjaja (Sinar Mas grup), dan Le Minerale terafiliasi dengan Jogi Hendra Atmadja di bawah payung (Mayora grup). Sementara pemain lama Aqua seperti Tirto Utomo telah menggeluti bisnis air minum semenjak tahun 1973 tetap kokoh mendominasi bisnis air minum dalam kemasan.