EmitenNews.com - PT Prodia Widyahusada Tbk. (PRDA) merealisasikan topline atau pendapatan sebesar Rp2,28 triliun sepanjang tahun buku 2025, naik tipis 1,31 persen secara year on year (YoY) dibandingkan periode sebelumnya.

Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty dalam pernyataannya Jumat (13/3/2026) mengatakan kinerja Prodia ditopang kontribusi kuat dari segmen pemeriksaan rutin serta meningkatnya permintaan layanan esoterik. Capaian tersebut efek dari strategi perseroan dalam memperkuat inovasi layanan diagnostik serta pengembangan ekosistem digital.

“Pendapatan sebesar Rp2,28 triliun pada tahun buku 2025 mencerminkan efektivitas strategi kami dalam mengakselerasi inovasi, memperkuat ekosistem digital, serta mengoptimalkan jaringan layanan,” ujar Dewi.

Di tengah pertumbuhan pendapatan, beban pokok penjualan tercatat Rp949 miliar atau meningkat 5,42 persen YoY seiring kenaikan volume tes, ekspansi layanan, serta peningkatan biaya bahan medis dan reagen. Dampaknya, laba kotor perseroan turun tipis 1,43 persen YoY menjadi Rp1,33 triliun. Meski demikian, Prodia tetap mencatatkan laba usaha (EBIT) Rp225 miliar dan laba sebelum pajak (EBT) Rp264 miliar. Setelah memperhitungkan beban pajak sebesar Rp58 miliar, perseroan membukukan laba bersih Rp207 miliar pada 2025.

Dari sisi neraca, total aset Prodia tercatat Rp2,70 triliun, dengan liabilitas Rp302 miliar dan ekuitas Rp2,39 triliun. Sementara arus kas bersih dari aktivitas operasi tercatat Rp424 miliar. Sepanjang 2025, Prodia juga merealisasikan belanja modal (capex) lebih dari Rp165 miliar untuk pengembangan infrastruktur, modernisasi peralatan laboratorium, serta inovasi layanan digital.

Direktur Keuangan Prodia Liana Kuswandi juga menyatakan kinerja keuangan yang solid menjadi fondasi penting bagi agenda ekspansi perseroan ke depan.

“Sepanjang tahun 2025, Prodia menjaga profitabilitas dan arus kas tetap solid melalui pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan serta melakukan pengelolaan biaya yang produktif, didukung struktur permodalan yang tetap sehat,” ujarnya.

Memasuki 2026, Prodia menyiapkan sejumlah inisiatif strategis, termasuk ekspansi specialty clinic di bidang stem cell, autoimmune, dan longevity serta penguatan layanan precision medicine melalui pengembangan Prodia Clinical Multiomics Centre (PCMC) berbasis teknologi mass spectrometry.

Sepanjang 2025, perseroan juga mencatatkan lebih dari 888 ribu pelanggan baru dengan total lebih dari 20 juta tes yang dilakukan. Kanal digital U by Prodia turut menunjukkan akselerasi signifikan dengan lebih dari 2,9 juta unduhan, tumbuh sekitar 70 persen YoY, serta peningkatan nilai transaksi sebesar 37 persen.

Kemudian, di sisi jaringan layanan, Prodia menambah 1 laboratorium medis, 2 genomic site, dan 71 point of care (POC) sepanjang 2025. Dengan tambahan tersebut, total jaringan layanan perseroan mencapai 402 outlet yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia, sekaligus memperluas kemitraan internasional ke Taiwan, Malaysia, dan Timor Leste.

Ke depan, perseroan akan terus mendorong inovasi layanan diagnostik berbasis teknologi serta memperluas jaringan specialty clinic untuk mendukung pengembangan precision medicine di Indonesia.(*)