EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu melemah cukup signifikan. Harga minyak mentah koreksi berlanjut, dan data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) secara tidak terduga mengalami penurunan. Harga minyak WTI melejit di atas USD90 per barel, mencatat lonjakan mingguan terbesar sejak edisi 1983. 

Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan ada kesepakatan mengakhiri perang AS-Iran tanpa penyerahan tanpa syarat dari Iran. Itu meningkatkan kecemasan investor kalau perang akan berlangsung lebih lama dari perkiraan, dan dampak buruk pasokan minyak mentah berpotensi lebih lama dari estimasi.

Investor khawatir harga minyak akan berlanjut naik kalau beberapa negara mengurangi atau menghentikan produksi, meski Presiden Iran menyatakan tidak akan menyerang negara tetangganya lagi. Serangan Israel terhadap depot minyak Iran dikhawatirkan menambah faktor negatif. 

Di sisi lain, data nonfarm payrolls AS Februari 2026 turun menjadi 92 ribu dari periode Januari 2026 di kisaran 126 ribu. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen dari 4,3 persen. Di tengah potensi lonjakan inflasi karena kenaikan harga energi, data tersebut menimbulkan kekhawatiran akan potensi terjadinya stagflasi. 

Pekan ini, investor akan mencermati data inflasi AS, dan Tiongkok. Pemodal domestik, akan menilik rilis data IKK, retail sales, dan penjualan otomotif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan kembali menguji level 7.480. Kalau tembus, indeks berpeluang menguji support berikutnya 7.250-7.300.

Realisasi defisit APBN Rp135,7 triliun alias 0,53 persen dari product domestic bruto (PDB) Februari 2026, lebih tinggi dari tahun lalu 0,13 persen. Realisasi pendapatan negara Rp358 triliun setara 11,4 persen dari target APBN 2026, meningkat dari periode Februari 2026 di level Rp317,4 triliun. 

Realisasi belanja negara Rp493,8 triliun, naik 41,9 persen YoY terutama didorong program Makan Bergizi Gratis (MBG), bansos, belanja pegawai, belanja kementerian/lembaga, dan  subsidi. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor menyerap saham WIIM, DOOH, NCKL, MEDC, BREN, dan TPIA. (*)