EmitenNews.com - Menghadapi portofolio yang merah pekat sering kali memicu krisis eksistensial bagi seorang investor. Saat saham yang kita beli terus merosot turun, layar aplikasi sekuritas seolah memaksa kita untuk menjawab satu pertanyaan paling menyiksa di bursa efek: "Apakah saya harus menyuntikkan dana lagi untuk menurunkan harga rata-rata (averaging down), atau saya harus menyerah dan memotong kerugian (cut loss) sekarang juga?"

Di persimpangan inilah karakter dan ketajaman seorang investor sejati diuji. Sastrawan klasik Rusia, Fyodor Dostoevsky, pernah menuangkan pemikiran filosofis dalam mahakaryanya, bahwa manusia sering kali lebih suka memeluk kebohongan yang menenangkan daripada harus berhadapan dengan kebenaran yang menyakitkan

Di pasar modal, "kebohongan yang menenangkan" itu sering kali berwujud aksi averaging down membabi buta semata mata demi melindungi ego agar tidak merasa salah pilih saham. Mari kita letakkan ego tersebut sejenak dan membuat rasionalisasi dilema ini menggunakan analisis fundamental dan psikologi perilaku (behavioral finance).

Ilusi Prospect Theory, Disposition Effect, dan Sunk Cost Fallacy

Sebelum memutuskan langkah teknis, kita harus menyadari mengapa tombol cut loss begitu berat untuk ditekan. Dalam riset monumental yang diterbitkan di The Journal of Finance (1998), ekonom perilaku Terrance Odean membuktikan sebuah fenomena yang ia sebut sebagai Disposition Effect.

Odean menemukan bahwa investor ritel memiliki kecenderungan psikologis yang sangat destruktif. Mereka terlalu cepat menjual saham yang sedang untung karena tidak sabar ingin merasakan kemenangan, tetapi bersedia menahan saham yang sedang rugi hingga bertahun-tahun karena menolak mengakui kesalahan analisis mereka. 

Secara akademis, Odean melandaskan temuan ini pada Prospect Theory dari Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Menurut teori tersebut, manusia memiliki bias di mana mereka menjadi sangat menghindari risiko (risk-averse) saat sedang untung, tetapi mendadak menjadi pencari risiko (risk-seeking) saat portofolionya sedang merugi. 

Secara psikologis, di lapangan, bias ini sering berujung pada Sunk Cost Fallacy, yaitu perasaan bahwa karena kita sudah mengorbankan terlalu banyak modal dan waktu di satu saham, kita merasa "sayang" untuk keluar. Kita membohongi diri sendiri dengan narasi, "Nanti juga pasti mantul (rebound) lagi." 

Padahal, bursa saham tidak memiliki empati terhadap seberapa banyak uang yang sudah dikeluarkan. Mempertahankan saham dari perusahaan yang fundamentalnya sudah hancur sama dengan membakar uang segar di atas kapal yang sedang tenggelam.

Baca Juga: Portofolio Merah Bikin Panik, Apakah Uang Kita Aman di Bursa Saham?