EmitenNews.com - Kinerja pengelola jaringan supermarket kelas atas Ranch Market dan Farmers Market, PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), pada paruh pertama tahun 2026 menyajikan cerita yang menarik. Meskipun posisi akhir di buku catatan keuangan masih menunjukkan kerugian, perusahaan yang kini menjadi bagian dari ekosistem Grup Djarum ini sedang menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang nyata. 

Laporan keuangan terbaru mereka yang terbit 25 September 2026 di portal IDX, merekam kerja keras manajemen yang mulai membuahkan hasil berupa keuntungan operasional, walau tantangan ketersediaan dana tunai jangka pendek masih membayangi langkah mereka ke depan.

Angin Segar di Mesin Penjualan Utama

Mesin kasir RANC tampak kembali berdering nyaring di semester pertama 2026. Penjualan bersih perusahaan sukses menembus angka Rp1,60 triliun, yang berarti ada pertumbuhan sebesar 10,47% dibandingkan periode yang sama tahun lalu di angka Rp1,45 triliun. 

Kenaikan nilai belanja ini sejalan dengan kelihaian perusahaan menjaga selisih harga, di mana laba kotor mereka naik 12,31% menjadi Rp398,94 miliar. Kabar paling menggembirakan adalah RANC akhirnya mampu mencetak laba usaha sebesar Rp2,88 miliar, sebuah lompatan pemulihan yang luar biasa karena setahun sebelumnya mereka masih harus menelan rugi usaha hingga Rp21,98 miliar.

Meski dapur operasional sudah mulai mengepulkan untung, rapor laba bersih perusahaan sayangnya masih memerah. RANC masih mencatat rugi bersih yang menjadi porsi pemilik induk sebesar Rp15,29 miliar. 

Namun, jika dilihat lebih dekat, kerugian ini sejatinya sudah terpangkas sangat dalam hingga 57,41% dibandingkan kerugian paruh pertama tahun lalu yang mencapai Rp35,89 miliar. 

Beban berat yang masih menahan laju keuntungan ini utamanya berasal dari kewajiban biaya keuangan sebesar Rp17,72 miliar, yang sebagian besarnya merupakan tagihan bunga atas sewa gedung toko senilai Rp13,98 miliar.

Siapa Pembeli Setia dan Urat Nadi Wilayah Bisnis RANC?

Jika kita membongkar rincian pendapatan RANC, hampir seluruh urat nadi perusahaan digerakkan oleh denyut konsumen ritel langsung. Penjualan kepada pihak ketiga menguasai porsi raksasa sebesar 98,86% atau setara Rp1,58 triliun, sementara skema barang titipan atau konsinyasi hanya menyumbang angka kecil sebesar Rp18,20 miliar.