EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup di level Rp17.903 alias hampir mendekati level Rp18.000. Kendati begitu, posisi ini menguat 13 poin dari posisi sebelumnya di Rp17.916.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi juga memproyeksikan perdagangan pada senin depan, nilai tukar rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.900 hingga Rp17.950. 

Namun, untuk periode perdagangan satu pekan ke depan, mata uang rupiah diperkirakan berada di rentang Rp17.800 hingga Rp18.000.

“Pada perdagangan pasar akhir pekan, mata uang rupiah ditutup menguat 13 point sebelumnya sempat melemah 30 point  dilevel Rp.17.903 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.916,” kata Ibrahim, Jumat (25/9).

Ibrahim menilai sejumlah sentimen diperkirakan masih mengiringi pergerakan nilai tukar rupiah ke dolar. Seperti, perkembangan geopolitik global yang terjadi antara AS dan Iran di New York yang tengah menjajaki jalan keluar bertahap dari konflik yang mencakup langkah Teheran membuka lagi Selat Hormuz, juga langkah Washington mencabut blokade ekonomi terhadap Iran.

Begitu pun dari sisi The Fed yang masih membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lanjutan. Hal itu terlihat dari dua presiden wilayah New York dan Cleveland yang memperingatkan adanya potensi kenaikan suku bunga di tengah inflasi yang tinggi.

Di sisi lain, ekonomi global juga diperkirakan bakal mengalami tekanan imbas lonjakan harga minyak. Bahkan, lembaga keuangan global IMF juga telah mengingatkan para pemangku kepentingan dunia akan hal tersebut.

“Kondisi tersebut mendorong bank sentral di berbagai negara untuk menaikkan suku bunga guna mengendalikan kenaikan harga. Namun, kebijakan suku bunga yang lebih tinggi juga meningkatkan biaya pinjaman pemerintah. Peningkatan beban bunga utang berpotensi mempersempit ruang fiskal negara untuk memberikan stimulus atau meredam dampak ekonomi apabila harga energi kembali melonjak,” jelas Ibrahim.

Karena itu, ia memberikan lima rekomendasi kepada Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia guna meredam kondisi tersebut. Pertama, optimalisasi pertumbuhan ekonomi dengan memaksimalkan instrumen kebijakan fiskal dan moneter secara padu guna menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional. 

Kedua adalah penguatan Sektor Eksternal menjaga stabilitas dari potensi gejolak eksternal pada sektor perdagangan dan aliran modal asing (capital inflows).