EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga level Rp17.326 per USD atau melemah sekitar 83 poin pada penutupan perdagangan Rabu (29/4/2026). Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh pelemahan 95 poin di level Rp17.243.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membebani pergerakan pasar.

Dari sisi global, pasar merespons keputusan Uni Emirat Arab (UEA) yang keluar dari kelompok produsen minyak OPEC. Langkah tersebut dinilai berpotensi mengganggu stabilitas pasokan minyak dunia, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Selain itu, Amerika Serikat (AS) dikabarkan akan memperpanjang blokade terhadap pelabuhan Iran. Kebijakan ini diperkirakan akan memperpanjang gangguan pasokan energi global, mengingat Iran merupakan salah satu produsen minyak utama. Situasi semakin kompleks karena meskipun telah ada gencatan senjata, konflik antara AS, Israel, dan Iran belum mencapai penyelesaian final.

Penutupan jalur distribusi di Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia, turut memperburuk kekhawatiran pasar. Kondisi ini mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi global, yang pada akhirnya berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Pasar saat ini menantikan keputusan penting suku bunga Federal Reserve (Fed) yang akan dirilis malam nanti, hari Kamis dini hari pukul 01.00 WIB. Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dana federal di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen, menandai pertemuan ketiga berturut-turut tanpa perubahan. Pertemuan ini mungkin menjadi yang terakhir bagi Jerome Powell, yang penggantinya, Kevin Warsh," ujar Ibrahim, Rabu (29/4).

Sementara dari dalam negeri, lanjut Ibrahim, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih stagnan di kisaran 5% dinilai tidak lepas dari faktor kehati-hatian berlebih dalam pengambilan keputusan akibat risiko hukum. Kondisi ini dinilai dapat menghambat akselerasi ekonomi, terutama dalam mendorong target pertumbuhan yang lebih tinggi.

Selain itu, kekhawatiran investor terhadap tata kelola sovereign wealth fund Danantara juga menjadi sorotan. Lembaga pemeringkat Fitch Ratings sebelumnya menyoroti potensi risiko tata kelola dan transparansi, termasuk kemungkinan penggunaan dana untuk kepentingan pembiayaan program pemerintah. Hal ini dinilai dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

"Danantara berpotensi digunakan untuk membiayai program-program pemerintah. Misalnya, ketika ada kesenjangan antara anggaran dan kebutuhan belanja pemerintah, Danantara digunakan untuk menutup sebagian kebutuhan tersebut. Dalam melakukan penilaian, Fitch melihat kejelasan posisi Danantara sebagai sovereign wealth fund. Jika sebuah entitas mengklaim sepenuhnya komersial, tetapi kenyataannya tidak, maka ekspektasi bisa meleset. Hal ini bisa menimbulkan kejutan, karena keputusan investasi bisa dipengaruhi aspek politik, bukan semata-mata imbal hasil," tutur Ibrahim.

Sementara untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.320 hingga Rp17.380 per USD.